Senin, 05 September 2011

The Alchemist (Paolo Coelho)

Sudah lama saya mendengar bahwa buku ini salah satu ‘must read’ sejak beberapa waktu lalu. Tapi saya belum punya cukup mood untuk membeli dan membacanya. Saya sempat membaca sekilas sinopsisnya yang merangkum bahwa buku ini bertutur tentang Jiwa Dunia, cinta, kesabaran dan kegigihan yang disampaikan oleh sang Alkemis kepada Santiago, seorang anak gembala, dalam sebuah perjalanan melintasi padang pasir. Tapi saat itu rasanya kurang menantang bagi selera saya yang cenderung menggemari fiksi fantasi. Alih-alih, saya malah membeli The Alchemist-nya Michael Scott yang memang merupakan fiksi ala Harry Potter dengan inspirasi utama legenda si manusia abadi, Nicholas Flamel (saya sudah pernah mengulas buku tersebut di blog ini sebelumnya).

Tapi beberapa minggu lalu saya mengambil cuti satu minggu penuh dari kantor. Kelelahan setelah perjalanan liburan yang meriah bersama anak-anak di negeri jiran, saya memutuskan untuk menikmati sisa cuti dengan sebuah buku yang bisa memberikan ketenangan. Saya membelinya di toko buku Gramedia yang terdekat dari rumah saya, dan kebetulan saat itu stock-nya ada, padahal sudah sempat kosong selama beberapa lama.

Kalau harus memilih satu kata untuk mendeskripsikan cerita dalam buku setebal 216 halaman ini, maka pilihan kata yang paling tepat menurut saya adalah: datar. Yep, meski bercerita tentang perjalanan seorang anak gembala yang mencari harta karun berdasarkan petunjuk mimpinya dari kampung halamannya di sebuah desa kecil di Spanyol menuju Piramida Mesir, kehilangan semua uangnya akibat ditipu oleh orang pertama yang dikenalnya di tanah Mesir, melintasi padang pasir yang luas dan kejam, dihadang perang antar suku yang biasa terjadi di antara bangsa Arab, dan menjadi tawanan salah satu diantaranya; jangan berharap itu semua disuguhkan dalam sebuah cerita petualangan yang mengasyikkan. Coelho menyampaikan semuanya dengan ritme yang datar tanpa ketegangan yang mendebarkan. Pun tentang kisah cintanya dengan Fatima, sang gadis gurun.

Tapiiii…cobalah cerna kata demi kata, kalimat demi kalimat, yang dirangkai oleh Coelho dalam menuturkan rangkaian cerita serba datar tersebut. Dahsyat man! Banyak sekali yang ‘bersinar’ dan sangat mencerahkan. Mengingatkan saya pada puisi atau prosa Khalil Gibran.

Santiago walaupun hanya seorang anak gembala, tapi dia gemar membaca, khususnya buku-buku sejarah dan teologia. Di kepalanya banyak terdapat pertanyaan yang ingin dijawabnya. Pertemuannya dengan sang Alkemis akhirnya memungkinkannya untuk memperoleh pencerahan atas berbagai misteri hidup yang berasal dari Jiwa Dunia, bahkan memungkinkannya ‘berdialog’ dengan segenap unsur alam semesta: pasir, angin, matahari, dan lain-lain.

Mengapa seorang alkemis? Alkemis atau ahli alkimia mungkin bukan sesuatu yang familiar di telinga sebagian besar orang Indonesia. Kita tahunya ya ‘kimia’ saja (tanpa ‘al’). Saya sendiri pertama mengetahui adanya alkimia adalah dari buku Harry Potter yang pertama, ‘The Sorcerer’s Stone’ atau ‘The Philosopher’s Stone’ yang sempat menyinggung tentang Nicholas Flamel, dan semakin familiar dengan membaca di The Alchemist-nya Michael Scott, lalu sekarang The Alchemist-nya Paulo Coelho. Intinya, alchemist atau ahli alkimia adalah orang yang berhasil menguasai ilmu yang merupakan gabungan antara kekuatan spiritual dan ilmu alam untuk menyibak tabir rahasia inti kehidupan dunia (Jiwa dunia). Hasilnya adalah kemampuan untuk membuat Batu Filsuf yang bisa digunakan untuk merubah logam menjadi emas dan membuat Ramuan Kehidupan yang bisa membuat panjang umur. Artinya, seorang ahli alkimia merupakan manusia bijak nan sakti karena mampu memahami dengan sangat mendalam makna kehidupan secara sprirtual dan juga berhasil menembus batas-batas kemampuan ordinary people untuk mengendalikan atau mengubah alam dan unsur kehidupan secara material.

Buku ini terbagi dalam beberapa babak dialog yang dialami oleh Santiago yang terangkai seperti proses dilektika, thesis-anthitesis, dan pada akhirnya membawanya pada keputusan apa yang sebeneranya diinginkannya.

Yang pertama adalah dialog dengan sang Raja Salem, orang pertama yang membukakan matanya dan memantapkan tekadnya untuk berlari mengejar mimpinya, atau dalam buku ini istilah yang dipakai ‘takdir’-nya: “Satu-satunya kewajiban manusia sejati adalah mewujudkan takdirnya…Dan saat engkau menginginkan sesuatu, seluruh jagat raya bersatu padu untuk membantumu meraihnya” (halaman 31).

Yang kedua dialog dengan sang Pedagang Kristal, orang yang mengajaknya berpikir pragmatis dan memiliki pandangan let the dream be the dream: “Sebab justru impian…yang membuatku bertahan hidup. Impian itulah yang membantuku menjalani hari-hariku yang selalu sama ini, kristal-kristal bisu di rak-rak itu, serta makan siang dan makan malam di kedai jelek yang itu-itu juga. Aku takut kalau impianku menjadi kenyataan, aku jadi tidak punya alasan lagi untuk hidup…” (halaman 72).

Dialog ketiga adalah dengan seorang ‘alchemist wanna be’ berbangsa Inggris yang merupakan representasi dari seseorang yang tidak mampu mewujudkan takdirnya, meskipun dia telah bertekad untuk itu. Kesalahan terbesar si Inggris adalah karena dia tidak menyelami Jiwa Dunia, melainkan secara kaku hanya menerapkan apa yang tertulis dalam buku-buku yang dibacanya. Dia mengabaikan apa-apa yang diajarkan langsung oleh alam disekitarnya yang sebenarnya justru merupakan sumber esensial dari ilmu alkimia. “Alkimia adalah ilmu yang sulit. Setiap langkahnya harus dijalani persis seperti yang telah dilakukan para ahlinya” (halaman 104).

Dan yang terakhir tentu saja dialog dengan Sang Alkemis. “Sebab dimana hatimu berada, disitulah hartamu berada” adalah pesan Sang Alkemis yang disampaikan berulang-ulang kepada Santiago. Sang Alkemis menuntunnya untuk mencapai tempat yang hendak ditujunya mengikuti suara hatinya, Piramida Mesir. Dan Sang Alkemis membesarkan hatinya manakala semangat dan keberanian Santiago surut menghadapi berbagai aral dan tantangan.

“Bagaimana kalau aku gagal?”

“Berarti kau akan mati di tengah usahamu mencoba mewujudkan takdirmu. Itu jauh lebih baik daripada mati seperti jutaan orang lainnya yang bahkan tidak pernah tahu takdir mereka” (halaman 182).

Bagi saya, cerita ini sebenarnya bisa dimaknai sebagai refleksi kehidupan kita sehari-hari. Saat kita didera keraguan antara tetap tinggal dalam zona kenyamanan kita atau bergerak mewujudkan apa yang menjadi impian kita sebenarnya. Tak jarang kita tidak memiliki cukup keberanian atau kepercayaan diri, hanya mampu menengadah memandang impian yang rasanya terlalu muluk dan jauh dari jangkauan. Padahal kita mencoba selangkah pun belum untuk mendekatinya. Bak petarung yang kalah sebelum bertanding.

Saya merekomendasikan buku ini terutama bagi mereka yang sedang mencari motivasi untuk bergerak meninggalkan babak kehidupannya yang cenderung stagnan dan belum sesuai dengan apa yang dibisikkan oleh hatinya sejak dia masih bebas untuk mengusung idealisme dan optimisme masa kuliah.

“Begitu kau menapakkan kaki di padang pasir, kau tak bisa mundur lagi…Dan kalau kau tak bisa mundur lagi, kau hanya perlu memikirkan cara terbaik untuk maju terus. Selebihnya terserah pada Allah, termasuk bahaya yang mungkin mengintai” (halaman 100).

Prove it
.

DN

Minggu, 15 Mei 2011

Buku Baru: “Bonsai: Hikayat Satu Keluarga Cina Benteng” (Pralampita Lembahmata)

Novel bagus. Asli bagus. Sarat nilai. Mengingatkan saya pada “Para Priyayi”-nya Umar Kayam. Cerita tentang satu keluarga dalam beberapa generasi dengan benang merah berupa nilai-nilai yang dibentuk oleh “sang pemula” sebagai generasi awal yang menciptakan identitas nilai tersebut untuk diwariskan pada anak-cucu keturunannya.

Jika di “Para Priyayi” generasi awal dimulai oleh Sastrodarsono, sang priyayi guru, maka di “Bonsai”, generasi awalnya dimulai oleh Boenarman, sang pecinta bonsai, yang lahir pada tahun 1883 dari Ibu seorang Hokkian yang baru satu generasi bermukim di Batavia dan Ayah seorang Jawa, mantan prajurit Sultan Agung yang menyerbu Batavia tapi tidak pernah kembali ke kampung halamannya lagi. Orang tua Boenarman tinggal di daerah Benteng, Tangerang, yang komunitas Tionghoa-nya dikenal dengan sebutan Cina Benteng. Boenarman dan anak keturunannya meneruskan identitas Cina Benteng ini.

Tumbuh menjadi peternak babi yang dididik untuk menghargai kesenian dan ilmu pengetahuan, meski tidak harus dari bangku sekolah, Boenarman pada suatu hari terpukau oleh keindahan sebuah bonsai cemara udang di rumah seorang temannya yang berasal dari keluarga Tionghoa kaya dan terpelajar. Apalagi setelah dia mengetahui bahwa usia bonsai bisa mencapai lebih dari seratus tahun dan ada makna filisofis yang bisa direnungkan dari bentuk dan eksistensinya, Boenarman menjadi tertarik untuk memiliki sendiri ‘puhunan kate’ semacam itu guna dijadikan semacam pusaka keluarga. Dari seorang temannya yang lain yang juga pencinta bonsai, Boenarman memperoleh sebuah bibit tanaman Hinoki Cypress yang berasal dari Jepang dan siap untuk dijadikan bonsai dengan teknik yang telah dipelajarinya.

Maka, dimulailah perjalanan hidup sebuah keluarga yang berusaha menjaga eksistensi dan keindahan sebatang bonsai Hinoki Cypress, karena diyakini mampu mengajarkan “falsafah cinta sejati, kesetiaan, keteguhan, kesabaran, ketabahan, kerendahan hati, dan umur panjang” (hlm 45).

Untuk pertama kalinya, Boenarman merasa ada sesuatu yang bakal abadi ketimbang jasadnya, masa hidupnya, kehadirannya, di dunia ini, yang akan diwariskan kepada keturunannya. Warisan itu bukan dari jenis harta benda atau kekayaan semata-mata, namun membawa serta nilai-nilai kehidupan yang agung tanpa banyak kata. Itulah bonsai, guru tak berlisan” (halaman 45).

Terdapat empat generasi setelah Boenarman yang diceritakan dalam novel ini, tapi hanya tiga generasi yang mampu mengemban amanat untuk menjaga fisik dan falsafah sang bonsai warisan. Boenadi (anak Boenarman), Meily (anak Boenadi) dan Feily (cucu Meily). Anak-anak Meily tidak ada yang memiliki chemistry dengan si Hinoki.

Pada setiap generasi, selalu ada cobaan hidup yang membuat para pelakunya berupaya mencari pegangan dari sang guru tak berlisan. Memang faktanya tidak mudah menjadi warga keturunan di sebuah negara yang sejarahnya banyak diwarnai konflik etnis seperti Indonesia. Pada masa Boenarman, tak lama setelah proklamasi kemerdekaan, ada pembantaian etnis Tionghoa yang dianggap sebagai pengkhianat bangsa karena memilih untuk menjadi serdadu NICA yang ikut menurunkan bendera merah putih dan menggerebek kediaman para pejuang revolusi.

Pada masa Boenadi, sweeping terhadap etnis Tionghoa dilakukan seiring perlawanan massa terhadap G30S/PKI tahun 1965 yang disinyalir disponsori juga oleh partai komunis RRC. Boenadi tidak hanya mengalami kekerasan fisik dari massa yang beringas, tapi hotel miliknya juga dibakar. Belum lagi, menantunya (suami Meily) menjadi korban pembantaian etnis Tionghoa di Semarang.

Pada masa Meily, etnis Tionghoa kembali terkena imbas kemarahan gerakan Malari tahun 1974 yang awalnya menyasar dominasi produk Jepang dalam perekonomian Indonesia, namun kemudian menjalar pada kecemburuan atas pengistimewaan etnis Tionghoa dalam pembagian kue pembangunan di awal masa kekuasaan Orde Baru. Untuk babak yang ini, Meily ‘hanya’ kehilangan satu mobilnya yang dibakar dan sedikit kerusakan di kantor perusahaan milik mertuanya yang dilempari batu oleh para demonstran.

Sementara pada masa orang tua Feily, kita tentu belum lupa kekerasan terhadap etnis Tionghoa yang mengiringi gerakan massa tahun 1998 dipicu oleh krisis keuangan tahun 1997 dan berpuncak pada lengsernya pemerintahan Orde Baru di bawah Presiden Soeharto. Meily pun kembali harus menyaksikan kenyataan pahit saat keluarga anak bungsunya (orang tua Feily) menjadi korban kekerasan hingga mengalami cacat fisik dan psikis yang cukup parah.

*****
Saya tidak hendak memperdebatkan perspektif Penulis yang mungkin bagi beberapa orang terkesan tidak berimbang dalam menyajikan latar belakang konflik etnis di atas terutama dari sisi pribumi. Itu wajar saja, karena cerita ini memang mengambil sudut pandang warga Tionghoa yang menjadi ‘korban’ dari keberadaannya sebagai minoritas di Indonesia. Saya hanya menyayangkan kurang kayanya ragam karakter para tokoh utama Pralampita yang bisa dibilang semuanya adalah ‘orang baik-baik’. Mulai dari tokoh-tokoh dalam keluarga, para sahabat, menantu, keluarga besan, para relasi dan pekerja, semuanya orang baik-baik yang sedikitpun tidak memiliki perilaku yang ‘melenceng’. Baik hati, pekerja keras, cinta keluarga, bertoleransi, nasionalis. Yah, kecuali mungkin Wahidin, orang kepercayaan Boenadi di hotelnya yang terjebak menjadi simpatisan PKI. Untuk yang ini, “Para Priyayi” lebih unggul dalam mengolah bermacam karakter para tokohnya sehingga ceritanya menjadi lebih berwarna.

Namun warna karakter tokoh yang monoton tidak berarti membuat “Bonsai” menjadi kurang bisa dinikmati. Di luar penggunaan setting sejarah, Pralampita berhasil membuat “Bonsai” terasa dinamis dengan keberadaan berbagai bumbu cerita yang berbeda di setiap babaknya. Ada babak persahabatan di episode Boenarman yaitu antara Boenarman dengan Hauw, Eng Kiat dan Tan Goan Liang; babak thriller dan horor di episode Boenadi yang menyaksikan seorang serdadu Jepang dipancung kepalanya di depan matanya dan sempat pula berurusan dengan hantu mantan jugen ianfu yang menganggu tamu-tamu hotelnya; serta babak percintaan antara Susana dan Ongki atau Rio dan Leony di episode Meily. Ditambah lagi, Pralampita lumayan piawai menggunakan kata-kata sesuai konteks jaman dan latar belakang etnis.

One thing for sure, menggunakan bonsai sebagai representasi nilai atau moral dan dijadikan pengikat keseluruhan cerita adalah ide cerdas. No wonder, si penulis mempunyai latar belakang pendidikan sastra dan filsafat yang membuatnya mampu menggunakan simbolisme yang tepat dan menarik. Dan sebenarnya mungkin tanpa harus disisipkan ‘rahasia besar’ dibalik bonggol-bonggol Hinoki Cypress itu, perlakuan istimewa keluarga Boenarman dan keturunannya kepada ‘puhunan kate’ tersebut masih tetap bisa diterima. Bagi saya, Pralampita telah berhasil menggambarkan ikatan emosional antara anak cucu keturunan Boenarman dengan bonsai pujaannya.

“Menatap bonsai itu seakan-akan ia memasuki masa silam melewati sebuah lorong magis. Di sana ia menjumpai pribadi-pribadi yang pernah hidup. Ia saksikan tangan mereka merawat batangnya, daunnya, akarnya, tanahnya, lumutnya…” (hlm. 449).

Baca sendiri aja deh. Strongly recommended-lah pokoknya.

DN

Senin, 11 April 2011

Baca Buku Masak

Minggu ini adalah minggu yang super duper sibuk buat saya. Senin sampai Rabu saya tugas ke luar negeri. Kamis siang saya mendarat di bandara Sukarno Hatta dan langsung dapat panggilan untuk ke kantor. Jumat saya dan tim saya harus menyelesaikan beberapa pekerjaan penting untuk minggu berikutnya plus menyiapkan meeting dengan the big boss untuk sore harinya.

Kalau sudah begini, I felt so ready to embrace a peaceful weekend with a nice book. Apalagi dengan segala kesibukan itu, saya hanya sempat membaca majalah dan surat kabar di sela-sela jadwal yang begitu padat.

Tapi, manusia berencana, Tuhan-lah yang menentukan. Baru saja saya mau bernafas lega setelah menyelesaikan semua tugas pada Jumat malam, saya dapat kabar dari rumah kalau anak sulung saya positif terkena cacar air. Pada saat yang bersamaan, satu orang asisten rumah senior (yang bertugas jaga anak dan memasak) mendadak dipanggil keluarganya di kampung karena ibunya sakit keras. Yang tersisa hanya si mbak yang kerja separuh hari untuk cuci-gosok dan beberes rumah. Hiks…

Oke-lah. No time for complaining. Ini saatnya saya membuktikan saya bukan seorang wanita yang mendedikasikan hidupnya hanya untuk karir, tapi juga seorang ibu rumah tangga yang dapat diandalkan oleh keluarganya! (jiaahh…suit, suit!)

So, no time for books as well
? Nggak juga ternyata. Saya toh pada akhirnya harus tetap membaca. Bukan membaca novel atau bacaan for relaxing lainnya, tapi membaca…buku-buku masakan! Yoi, ibu rumah tangga handal harus bisa menyajikan masakan lezat dan bergizi untuk keluarganya….

Jadi, Sabtu pagi sebelum anak-anak bangun, saya membongkar koleksi buku-buku resep masakan saya. Wuih, baru nyadar ternyata lumayan banyak juga lho (meski yang dipraktekin belum tentu sepersepuluhnya hehe…). Sebagian merupakan resep kue atau kudapan, sebagian lainnya resep lauk-pauk. Ada masakan padang, hidangan daging 'warisan kuliner indo belanda' (hmmh, ada kejadian apa ya sampai saya begitu ambisius membeli buku resep masakan-masakan ribet begini?), variasi sup ikan, soto nusantara (nah, yang ini lebih masuk akal, dan saya sudah mempraktekkan beberapa diantaranya), olahan bayam favorit anak (masaknya sih sukses, tapi tetap tidak berhasil menjadikan bayam sebagai makanan favorit anak-anak saya), menu sehat untuk hiperkolesterol dan hipertensi (ini proyek semusim waktu suami saya tiba-tiba ada keluhan darah tinggi dan kolesterol), resep pilihan nostalgia, hidangan idul fitri, dan…nah, ini favorit saya: masakan sedap ala kampung!

Sedap ala Kampung adalah buku resep seri Primarasa yang diterbitkan oleh Gaya Favorit Press (Femina). Sebagai penggemar masakan kampung, saya sudah mempraktekkan beberapa resep yang disajikannya seperti Gulai Ikan Asin, Tumis Genjer Tauco, Asem-asem Kulit Melinjo dan Bakwan Singkawang. Hmmh, maknyus! Mungkin karena saya memang pada dasarnya berbakat….:p. Tapi disamping resep-resep masakannya, saya senang membaca bagian pengantarnya yang akrab dengan memori masa kecil saya, diantaranya yang berbunyi seperti ini,

"Hidangan kampung sendiri biasanya menggunakan bahan yang harganya relatif murah, namun cukup bergizi. Bahkan, bahan-bahan ini kadang-kadang bisa diambil dari kebun atau halaman rumah, seperti genjer, timbul/keluih, daun melinjo, daun papaya, petai cina/mlandingan, daun talas, tekokak, leunca, dan lain-lain…"


Yap, di kampung masa kecil saya ada banyak rumah yang masih memiliki halaman luas yang ditanami sayur-mayur dan berbagai bumbu dapur. Tak jarang, orang menyiapkan hidangan makan siang dengan terlebih dahulu ‘memanen’ daun-daun sayur berikut bumbu-bumbuannya di halaman. Beberapa diantaranya bahkan tumbuh liar atau bukan karena sengaja ditanam. Ibu saya pernah panen jamur kuping yang tumbuh subur di sisa batang sirsak yang sudah ditebang di halaman belakang rumah. Saya lupa, masakan apa tepatnya yang dimasak oleh Ibu saya dengan sekeranjang penuh jamur kuping tersebut. Atau mungkin dibagikan ke para tetangga ya? Kalau bumbu-bumbu seperti sereh, jahe, tomat, cabe merah atau cabe rawit, ibu saya memang sengaja menanam di halaman depan atau belakang.

Sekarang, saya hanya punya belimbing sayur dan daun jeruk yang asli produksi halaman rumah sendiri. Lainnya? Beli di tukang sayur atau supermarket...

Kalau untuk resep kue atau kudapan, koleksi saya nggak terlalu banyak. Ada variasi puding istimewa (karena anak-anak saya gemar makan puding), mini meal (sebangsa makaroni, skotel, pai, dan sejenisnya—favorit si sulung), siomay, pempek dan otak-otak (favorit bapaknya anak-anak—tapi belum pernah kesampaian masak sendiri, tinggal beli sih), camilan garing, aneka muffin dan cupcakes. Dua yang terakhir bukunya dibeli dalam rangka mencari inspirasi bisnis kuliner. Tapi, yah…boro-boro mau ngurusin bisnis. Membagi dua perhatian antara rumah dan kantor pun masih setengah mati.

Tapi, sebenarnya saya memang bermimpi punya bisnis cupcakes. Saya penggemar cupcakes (favorit saya: cupcake jeruk). Menurut saya cupcakes itu makanan yang selain enak juga menarik. Bentuk dan warna-warnanya menggemaskan. Kalau suatu saat nanti saya berkesempatan untuk membuka usaha sendiri, maka yang pertama ada dalam bayangan saya adalah: semacam kedai sarapan yang menghidang minuman hangat seperti teh, kopi atau coklat, dengan makanannya muffin atau cupcakes buatan sendiri. Dan jangan lupa…ada rak buku dan majalah di setiap sudut untuk dibaca sambil menikmati makanan dan minuman pesanan. Asik kan?

Ada dua buku resep cupcakes yang saya miliki: "Cupcakes untuk Pemula" (Salma dan Hanni Handayani) dan "Resep Mudah Cupcakes Lezat" (Alvina Puspasari). Buku yang pertama, meski untuk pemula, fokusnya lebih ke bagaimana mengemas cupcakes untuk bisnis dengan hiasan yang menarik, terutama dengan plastic icing yang bisa dikreasi berbagai bentuk. Sementara variasi cake-nya sendiri cuma terbatas rasa vanilla, coklat, mocha dan palm sugar. Sedangkan buku yang kedua, penekanannya benar-benar kepada variasi rasa cake, seperti vanilla, coklat, mocha, jeruk, lemon, pandan, susu, madu, atau dengan campuran buah, corn flakes, kentang, tape, sampai ketan hitam. Sementara pilihan topping-nya hanya terbatas pada butter cream dan icing sugar.

Tapi jangan tanya berapa yang sudah saya praktekkan, karena...belum ada! Terus terang, saya lebih suka memasak lauk-pauk dibanding kue atau kudapan. Resep kue itu bagi saya terlalu kaku atau ‘mengikat’. Bahan-bahannya harus ditakar secara benar. Meleset sedikit, hasilnya bisa diluar harapan. Kalau masakan biasa atau lauk-pauk, kita masih bisa berimprovisasi sendiri sesuai selera. Mau dibuat lebih asin, lebih pedas, lebih asam, terserah.

Kembali ke rencana memasak saya di weekend tanpa si mbak ini. Jadi, setelah membaca, menimbang, mengingat dan seterusnya, saya memutuskan untuk memasak: bakso kuah campur lobak. Hehe…bukan karena saya kebingungan atau mau cari yang gampang, tapi bakso adalah favorit si sulung yang sedang sakit. Jadi saya memilih untuk memasak makanan yang bisa membangkitkan selera makan si sulung agar dia cepat pulih.

See
, saya seorang ibu yang handal kan? :D

DN

Sabtu, 12 Februari 2011

Fiksi Romantis

Gara-gara posting-an terakhir yang mengungkapkan kalau saya jarang bisa baca cerita fiksi romantis sampai tuntas (lihat Stories that are not Mine), saya jadi kepikiran. Sebenarnya kenapa juga ya saya sering begitu? Kadang mood saya membawa tangan saya mengambil sebuah novel fiksi romantis dari rak di sebuah toko buku dan memutuskan untuk membeli dan menikmatinya. But most of the cases, I ended up giving up not until half of the story.

Tapi kalau dipikir-pikir, kebiasaan itu baru terjadi belakangan, setelah saya menikah. Sebelumnya, sejak di bangku SMP (atau SMA ya?) sampai sebelum menikah, saya sempat melahap beberapa novel percintaan, mulai dari Mira W, Marga T, Sandra Brown, Nicholas Sparks atau Pearl S. Buck. Hampir semuanya pinjam dari teman. Meski rasanya tidak ada yang memberi kesan mendalam, at least saya membacanya sampai tuntas. Kalau sekarang, novel-novel dengan tema utama percintaan yang saya baca (secara tuntas) dapat dihitung dengan jari. I don’t know why. Mungkinkah karena babak ketertarikan akan romantisme dalam hidup saya sudah lewat? Hmmh, could be. This is the time to face the real world with its real problems. No time for such a rubbish…hehehe sumpeh lo?

Novel fiksi romantis terakhir yang saya beli dan saya baca selain Amazing Gracie-nya Sherryl Woods seperti yang saya sebut di posting-an sebelumnya, adalah “Perahu Kertas”-nya Dewi ‘Dee’ Lestari. Seperti pengakuannya, novel ini ala kisah cinta komik Jepang sekale! (Candy-Candy, Pop Corn, Pansy, etc). Cukup menghibur. Tapi saya perlu beberapa waktu untuk menuntaskannya. Lalu The Host-nya Stephanie Meyer yang sudah pernah saya bahas di blog ini sebelumnya. Banyak logika dan detil yang dipertanyakan karena Ms. Meyer terlalu sibuk mengeksplorasi emosi para tokoh utamanya.

Yang mungkin merupakan pengecualian adalah Memoirs of A Geisha-nya Arthur Golden. Because, to my surprise, I was quite impressed with the story. Awalnya cukup susah payah saya menyelesaikannya karena jalan ceritanya sangat lamban dan berliku untuk sang geisha Sayuri memenangkan cinta si Mr. Chairman. Hanya sejarah dan sosiologi Jepang era Perang Dunia II yang menjadi setting cerita-lah yang membuat saya mampu bertahan. Pada akhirnya saya merasa ‘perjuangan’ tersebut terbayar saat saya membaca dua paragraf terakhir dan membuat saya bisa menerima mengapa Arthur Golden harus membuat cinta Sayuri kepada Mr. Chairman terpendam belasan tahun (sejak dia masih seorang gadis kecil pembantu geisha hingga dia sendiri menjadi seorang geisha yang terkenal) sebelum akhirnya memenangkannya dan mendampinginya hingga akhir hayat. Bunyi kalimatnya begini (dengan konteks Sayuri baya yang baru saja ditinggal mati oleh sang love of her life):

"I cannot tell you what it is that guides us in life; but for me, I fell toward the Chairman just as a stone must fall toward the earth. When I cut my lip and met Mr. Tanaka, when my mother died and I was cruelly sold, it was all like a stream that falls over rocky cliffs before it can reach the ocean. Even now that he is gone I have him still, in the richness of my memories. I’ve lived my life again just telling it to you."

Gosh, so touchy…Betapa seseorang bisa begitu yakin bahwa jalan hidupnya yang penuh dengan kelok, aral dan ujian tidak lain hanya untuk membawanya mendapatkan pria yang dipujanya. Hmh, why on earth I never felt that way?

Lepas dari persoalan ‘tahap ketertarikan romantisme yang telah lewat’ itu, saya mencoba berpikir dan menemukan, apa yang sebenarnya saya rasakan saat membaca novel-novel fiksi romantis yang tidak terbaca secara tuntas. Dan saya mendapatkan beberapa penjelasan sebagai berikut.

Yang pertama, jelas, jalan cerita fiksi-fiksi romantis itu nyaris seragam sehingga mudah ditebak. Selalu diperankan oleh cewek menarik dan cowok yang juga menarik (beri saya sanggahan adanya cerita romantis yang diperankan oleh cewek jelek dan cowok nggak keren, nanti saya beri hadiah), ada pertemuan yang dramatis, tahap awal hubungan yang manis atau mungkin tidak manis tapi berkesan-lah, ada hambatan atau ujian, sebelum akhirnya happy ending atau live happily ever after. Coba, dimana letak serunya?

Kedua, kenikmatan membaca cerita fiksi bagi saya adalah kontras antara kehidupan si pembaca yang tenang, normal, dan nyaris datar dengan bacaan yang menyajikan imajinasi atau fantasi tak terbatas. Itulah kenapa saya cenderung suka dengan genre cerita detektif atau kriminal (Agatha Christie, John Grisham, dkk), thriller atau spionase (Dan Brown, Tom Clancy, dkk), dan fiksi fantasi (JK Rowling, J.R.R Tolkiens dkk).

Ketiga, nah ini yang paling utama, saya sering jengah membayangkan bahwa cerita romantis itu bisa jadi merupakan fantasi apa yang diinginkan oleh penulisnya untuk terjadi pada dirinya...hehe. Nggak tahu kenapa, saya sering merasa seperti itu. Saya yakin setiap orang punya imajinasi mengenai hal-hal romantis yang ingin dialaminya. Tapi apakah kita benar-benar ingin mendengar imajinasi masing-masing orang tersebut? Kalau yang sekedar buat lucu-lucuan kayak yang di cerita-cerita chicklit sih nggak apa-apa. Tapi kalau sudah serius dan ngajak mikir, apalagi yang nggak sungkan-sungkan menyampaikan bagian yang kotor kayak Sydney Sheldon…..Hmh, buat saya nggak perlu sering-sering deh.

Tapi ini masalah selera. Buat beberapa orang mungkin ada kenikmatan dan hiburan tersendiri dari cerita-cerita fiksi romantis yang dibacanya. Lauren Weisberger yang saya yakini selalu menjadikan tokoh utama di novel-novelnya sebagai representasi dirinya, mengungkapkan di buku Everyone Worth Knowing tentang kenikmatan membaca fiksi romantis oleh tokoh utama-nya, Bette Robinson. Bette diceritakan mempunyai guilty pleasure sejak remaja berupa hobi membaca novel-novel percintaan bahkan ikut klub membaca khusus bagi para penikmat fiksi romantis. Hobi-nya ini mendapat tentangan dari keluarganya yang bisa dibilang nerd people. Tapi Bette bergeming. Alasannya?

"What I didn’t tell my parents then was how much I loved romances… It was inspirational to read about two gorgeous people who overcame all obstacles to be together, who loved each other so much that they always found a way to make it work. The sex scenes were a bonus, but more than that, the books always ended happily, offering such optimism that I couldn’t keep myself from starting another immediately."

Sekali lagi, ini masalah selera. Dan kalau tentang selera, saya tidak pernah mau memperdebatkannya.

DN

Rabu, 02 Februari 2011

Stories those are not Mine

Akhir-akhir ini saya sedang tidak ada waktu untuk membaca bacaan-bacaan menarik yang bisa saya share (hiks…). Saya tetap membaca, tapi yang saya baca adalah bacaan-bacaan yang saya yakin tidak banyak orang (normal) yang sudi mengikutinya dari sebuah blog. Ini cuma bacaan yang sebenarnya lebih tepat dibaca di lingkungan kampus atau lembaga pendidikan, itu pun karena motivasinya untuk mendapat nilai ujian yang bagus. Sepanjang tidak wajib dan sepanjang tidak diujikan, buat apa orang repot-repot atau menyiksa diri untuk baca yang beginian?

Yang saya baca adalah bacaan-bacaan yang berhubungan dengan ekonomi mikro (huek!) karena saya baru saja pindah tempat kerja yang semula berhubungan dengan ekonomi makro menjadi lebih berhubungan ke mikro. Hampir tiap minggu saya pergi ke toko buku tanpa melirik ke seksi buku-buku fiksi, tapi langsung ke buku-buku finance. Saya harus banyak belajar karena this is a new area for me, sementara tanggung jawab yang saya terima juga lebih tinggi.

Ritme kerja saya juga menjadi sedikit gila-gilaan. Kalau di tempat kerja yang lama dulu grafik-nya fluktuatif, kadang tinggi kadang rendah (dan saat di titik rendah itulah saya memakainya untuk mengisi blog ini), tapi sekarang nyaris selalu konstan di titik yang tinggi dengan target yang ketat. Sehingga saya sering merasa harus memotivasi diri sendiri dengan motto yang saya pampang di status social networks saya: no gain without pain!

Jadi praktis, saya cuma punya weekend. Itu pun kalau my two little princesses and the big baby boy (alias my hubby) tidak sedang menuntut ‘kompensasi’ atas keterabaiannya selama 5 hari kerja. Tapi weekend ini suddenly became so peaceful for me. My hubby is being away on duty to Japan for a couple of weeks, kedua anak saya mulai minggu ini setiap Sabtu punya kegiatan eskul atau kursus. Jadi, yes: a me time at last!

Dan yang saya lakukan hari Sabtu lalu adalah: menyingkirkan buku-buku keuangan itu jauh-jauh, dan memilih beberapa buku fiksi dari rak buku koleksi saya. Lalu mengambil tempat di bangku panjang di teras belakang rumah, dekat kolam ikan kecil dengan pancuran air yang bergemericik, setelah sebelumnya menyeduh secangkir teh hijau. Mmmh…love it!

Buku-buku yang saya pilih adalah: Amazing Gracie-nya Sherryl Woods (atau tejemahannya "Anugerah Terindah") dan “Curhat Ibu-Ibu”-nya trio Diansya-Rini Nurul-Tria Ayu. Buku yang pertama sudah saya miliki sejak lama dan sudah saya baca sebagian, tapi belum selesai, karena saya mendadak kehilangan mood (memang saya sering begitu dengan buku-buku fiksi romantis, entah kenapa). Buku yang kedua malah sudah saya baca habis, tapi saat ini saya tergerak ingin membacanya kembali.

Ok, we start with Amazing Gracie. Seperti yang saya katakan, ini fiksi romantis. Cerita tentang Gracie MacDougal, seorang (mantan) wanita karir yang meninggalkan pekerjaannya yang menarik dan penuh tantangan di sebuah hotel mewah di Paris karena konflik dengan the new boss, dan memilih untuk beristirahat dari kehidupan yang hingar-bingar di sebuah kota pantai kecil Seagull Point di Virginia. Di sana dia bertemu dengan Kevin Patrick Daniels, sang jagoan tampan nan flamboyan ala pria Amerika daerah Selatan yang gaya hidupnya bertolak belakang dengan gaya hidup Gracie sebelumnya: santai, tanpa beban, meski tetap punya sikap. Dan yah, bisa ditebaklah! Keduanya saling tertarik, tapi saling menyangkal perasaan masing-masing, ada pertentangan dan pertengkaran yang isunya adalah keinginan Gracie untuk membeli rumah kuno warisan keluarga Daniels untuk dibuat penginapan nyaman namun Patrick enggan melepaskannya begitu saja dengan mudah; ada si orang ketiga Max, mantan bos Gracie yang stubborn yet charming dan bikin panas hati Patrick. Tapi akhirannya ya live happily ever after. Now you know why I lost my mood so easily not until half of the story…(*sigh*—lagian kenapa dibeli?).

Buku yang kedua adalah buku non-fiksi lokal. Saya beli di sebuah toko buku kecil di kampung halaman saat mudik lebaran kemarin. Judulnya “Curhat Ibu-Ibu” yang kalau hanya lihat dari cover-nya saya nggak akan heran kalau banyak yang merasa kecele karena mengira buku ini bercerita atau membahas tentang persoalan ibu-ibu kelas menengah ke atas, arisan-lah, belanja barang branded-lah atau aspek kehidupan sosial kaum urban lainnya. But NO (with big N and O). Gambar di cover memang memberikan kesan yang keliru, karena ini adalah cerita tentang 3 ibu yang bisa dibilang dari kelas menengah ke bawah dan tinggal di kompleks perumahan sangat sederhana (RSS) yang terletak di pinggiran kota, di tepi lembah, bahkan di kaki gunung, lengkap dengan segala suka-duka dari drama kehidupan mereka di lingkungan tersebut. Nyicil kompor gas, pinjam-meminjam atau pinta-meminta bumbu dapur, arisan PKK (iya, PKK yang saya kira juga sudah punah bersama dengan berlalunya era sang penguasa Orde Baru), politik pemilihan Ketua RT, kenduri yang pakai panggung musik dangdut, and soon and so forth.

Favorit saya adalah babak di kaki gunung-nya Rini Nurul: “Dari Pinggiran ke Pinggiran”. Meskipun tidak disebutkan nama daerah tempat tinggalnya, tapi sepertinya saya tahu dan bisa membayangkan karena rasanya lokasinya tidak jauh dari desa KKN saya jaman kuliah dulu di Kabupaten Bandung. Pagi yang berkabut, puncak gunung yang terlihat dekat dan sering diliputi awan, hujan angin yang seperti badai, jalanan yang berbukit, that was the (remote) area I used to live for 3 months more than 15 years ago. Membacanya membuat saya bernostalgia saat saya masih seorang mahasiswi semester 5 dimana persoalan hidup masih begitu sederhana. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan kecuali nilai ujian dan kiriman uang saku dari orang tua setiap bulannya (itupun hampir tidak pernah terlambat diterima).

Tapi mungkin memang inilah yang menggerakkan saya untuk memilih kedua buku tersebut. Kalau dipikir-pikir, keduanya bercerita tentang kehidupan yang jauh dari gegap gempita dunia kerja dan kompetisinya yang kerap melelahkan (like where I’ve been living in now). Tidak ada rangkaian meeting yang melelahkan (dan membosankan), tidak ada proyek trilyunan rupiah yang harus digolkan, tidak ada negosiasi perjanjian bisnis alot yang harus dimenangkan.

I wish that I could be like Gracie yang meninggalkan semuanya dan menyepi di sebuah pondok kecil cantik di pinggir pantai dan larut dalam kehidupan Seagull Point yang lamban dan tak menuntut. Atau seperti Rini Nurul yang bekerja dari rumah kecilnya di tepi gunung dengan laptop, kamus dan naskah terjemahan.

But, do I really want to exchange my life with theirs?

Benar kata pepatah: rumput tetangga sering terlihat lebih hijau. Yang benar kita seharusnya mensyukuri saja semua yang telah dipilihkan dan diberikan Allah SWT untuk kita serta menjalaninya dengan baik. Tidak adil rasanya kalau saya hanya mengeluhkan kewajiban yang harus saya jalani sementara saya telah menerima berbagai fasilitas dan kenikmatan lainnya dengan posisi baru saya. Dan mungkin tanpa semua kesibukan itu saya tidak akan bisa menemukan keindahan cerita-cerita sederhana yang saya nikmati hanya dari teras belakang rumah dengan hanya ditemani secangkir teh hijau.

I think life is wonderful if we know how to deal with it...

DN

Kamis, 16 Desember 2010

Buku Baru: Mengapa Sri Mulyani? (Steve Susanto)

Sebenarnya sulit bagi saya membahas buku ini. Subyektivitas saya sudah bermain duluan. Karena kebetulan saya mengenal secara pribadi Ibu Sri Mulyani dan saya nggak pernah suka sama kebanyakan politisi DPR. Kalau banyak orang bilang bahwa fenomena tingkah laku para anggota DPR sekarang mirip dagelan Petruk Jadi Raja, rasanya saya setuju sekali. Euforia orang yang baru kenal dengan kekuasaan kelihatan sekali dalam sepak terjang mereka menjalankan praktek kenegaraan. Memanggil siapa saja yang mereka ingin panggil, memaki siapa saja yang ingin mereka maki, menyalahkan siapa saja yang ingin mereka salahkan, pergi kemana saja mereka ingin pergi (ke luar negeri tentunya), bahkan menerima apa saja yang ingin mereka terima (duit maksudnya). Intinya: mereka melakukan apa saja yang ingin mereka lakukan tanpa perduli apakah ini ada landasan hukumnya atau tidak, atau apakah ini bisa diterima nalar orang sehat atau tidak. Modalnya cuma kata-kata: ini kehendak rakyat! (rakyat yang mana boss?).

Pernah berdebat sama anak kecil yang keras kepala? Bagi yang pernah, pasti setuju bahwa berdebat dengan anak kecil apalagi yang keras kepala itu super menjengkelkan. Pengetahuan dan nalar mereka terbatas, tapi mereka ngotot ingin dibenarkan atas kekeliruan yang mereka perbuat dan mendebat argumen logis yang kita kemukakan. Misalnya, saat kita memberitahu seorang anak kecil untuk tidak merebut mainan temannya karena hal itu tidak sopan. Lalu si anak mendebat, “Tapi aku mau mainan itu!” Dan kita jelaskan bahwa boleh saja dia meminjam, tapi caranya harus baik-baik, karena merebut itu tidak sopan dan menyakiti hati si pemilik mainan. Tapi dia tetap mendebat, “Tapi aku kan mau mainan itu!” Capek bukan?

Dan hal itu sama seperti DPR kita. Buta dan tuli terhadap kebenaran kalau hal itu bertentangan dengan kepentingan politik mereka. Tapi bagian yang paling mengesalkan adalah, kalau kejadiannya dengan anak-anak, itu wajar karena keterbatasan nalar itu tadi. Lha, kalau anggota DPR kan bukan anak-anak (kelakuannya aja yang mirip anak TK kalau kata almarhum Gus Dur—setuju Gus!).

Tapi dalam konteks ini, para anggota DPR pun terbagi dalam dua kelompok. Yaitu mereka yang benar-benar buta dan tuli karena sebenarnya mereka memang tidak benar-benar tahu apa yang sedang mereka lakukan (alias cuma sok tahu aja); dan mereka yang pura-pura buta dan tuli, yaitu mereka yang sebenarnya tahu mana yang benar tapi sengaja menutup mata dan telinga karena kepentingan politik mereka bertentangan dengan kebenaran tersebut. Dan Ibu Sri Mulyani Indrawati (SMI) adalah korban dari keduanya dalam kasus Bank Century.

Hal inilah yang coba dikupas dalam buku “Mengapa Sri Mulyani? Menyibak Tabir Bank Century”. Inti pembahasannya adalah: kasus Bank Century yang melibatkan dana 6.7 T semula diniatkan untuk mendiskreditkan Partai Demokrat dan SBY-Boediono yang secara ‘tidak sopan’ berani mengalahkan partai-partai senior dan para kandidat presiden dan wapres mereka. Tapi karena tidak dapat dibuktikan, kasus ini dibelokkan untuk menjatuhkan SMI, pahlawan reformasi yang juga dianggap ‘tidak sopan’ karena berani ngutak-atik urusan bisnis para politisi senior. Buku ini membeberkan fakta dan argumen mengenai hal-hal yang secara kuat mengindikasikan bahwa kemunculan kasus yang jadi isu besar nasional ini adalah by design, dengan aktornya para politisi pecundang dalam Pemilu 2009, pengamat atau akademisi haus popularitas, dan media yang sudah tidak bebas kepentingan.

Dan kelakukan para politisi DPR di drama Pansus Century itu mirip anak kecil perebut mainan yang saya bahas di atas. Mereka sejak awal sudah teguh memegang prinsip: pokoknya SMI harus salah! Jadi diberi argumen sekuat apapun oleh para pembuat keputusan bailout Bank Century dan para pengamat atau akademisi yang pro-bailout, mereka seolah tutup mata dan tutup telinga saja, karena “pokoknya SMI harus salah!”

Yang paling bikin gemas dalam drama Pansus Century itu, dan ini dicatat dalam buku tersebut, adalah acting para anggota Pansus yang sok tahu, sok pintar, sok galak dalam sesi tanya jawab yang lebih mirip interogasi dengan para narasumber yang notabene adalah para ahli di bidangnya. Coba, apa yang lebih (tidak) lucu dari seorang politisi bau kencur lulusan fakultas ekonomi universitas tidak terkenal di Jakarta yang dengan pedenya mencoba berdebat ilmiah dengan para doktor ekonomi universitas terkemuka dunia yang sudah menulis di puluhan media dan jurnal serta malang melintang di berbagai forum internasional, mengenai krisis keuangan global. Seperti menonton adu tembak antara anak kecil yang pakai pistol air dengan seorang penembak jitu yang pakai pistol beneran, tapi si anak kecil merasa bahwa mereka sama kuat bahkan ngotot mengklaim bahwa dialah pemenang adu tembak tersebut. Konyol abis.

Tuh kan saya jadi emosi kalau berbicara tentang politisi DPR…

Anyway, back to the book
, terlepas dari kegirangan saya pada buku Steve Susanto yang bikin saya ingin melambaikannya di muka para anggota Pansus kontra-bailout Century sambil ngomong: “Nih, rasain!”, tetap saja saya merasa harus menyampaikan penilaian obyektif saya. Menurut saya, kalau buku ini dimaksudkan sebagai pembelaan terhadap SMI (mengingat penerbitan buku ini merupakan proyek kelompok facebookers Kami Percaya Integritas SMI/KPI-SMI dimana Pak Steve Susanto merupakan salah satu anggotanya), maka pembelaan yang dilakukan maupun serangan terhadap para manipulator kebenaran, kurang komprehensif. Pak Steve lebih banyak berkuat pada penyampaian fakta (atau argumen) mengenai integritas SMI, latar belakang keluarga, pendidikan dan karirnya yang cemerlang, serta sepak terjangnya sebagai pahlawan reformasi Indonesia, yang bagi orang yang pada dasarnya memang sudah mengagumi SMI seperti saya, mudah saja menerimanya. Tapi buat orang-orang di seberang garis, mungkin hanya melihatnya sebagai argumen seorang pengagum yang sarat subyektivitas. Sementara sajian mengenai analisis jalannya proses ‘penyidangan’ SMI cs oleh Pansus pun lebih banyak merupakan perspektif Pak Steve dan para facebookers KPI-SMI, yang pada akhirnya juga debatable.

Akan lebih baik apabila Pak Steve juga menyajikan wawancara dengan tokoh-tokoh yang dianggap netral dalam kasus Century meski tetap ‘diarahkan’ untuk suatu pembelaan, seperti Prof. Hal Hill (ahli ekonomi Indonesia dari Australia) misalnya, atau orang-orang yang mengetahui persis isu bailout tetapi tidak punya kesempatan untuk berbicara di Pansus, seperti Perbanas, atau para analis politik yang bisa melihat bahwa ‘teori pengalihan target dari SBY ke SMI’ itu masuk akal. Saya kira testimoni para tokoh atau kalangan yang berkompeten itu akan memberikan bobot lebih terhadap upaya pembelaan terhadap SMI.

Tapi sekali lagi, saya pribadi senang sekali atas terbitnya buku ini, sama senangnya seperti saat saya menemukan situs srimulyani.net. Kalau ini adalah langkah awal yang dimaksudkan untuk mempersiapkan SMI ke kursi RI 1 di tahun 2014, maka sebagai orang yang pernah berkesempatan menyaksikan dari jarak yang sangat dekat unjuk intelektualitas SMI sebagai seseorang berlatar belakang akademisi serta integritasnya sebagai seorang menteri sekaligus pejuang reformasi, saya dengan suka rela meleburkan diri ke dalam kelompok yang mendukung sepenuhnya SMI for President!

May Allah always bless you, Ibu
.

DN

Jumat, 10 Desember 2010

E-books vs Printed Books

Ada yang sudah familiar dengan e-book? Gimana, asik nggak? Benar ya, e-book lebih menyenangkan dari buku cetak biasa? Lebih praktis, jelas. Lebih gaya, bisa jadi. Lebih murah, hmmh…masih debatable kayaknya. Saya tahu karena temen kantor saya kemarin pagi sharing ke saya artikel di internet yang mempertanyakan anggapan bahwa e-book lebih murah daripada buku konvensional. Artikel ini bilang, e-book lebih murah cuma kalau dibandingkan dengan buku-buku yang baru di-release atau sastra klasik yang sudah mulai langka. Tapi kalau buku biasa yang sudah cetakan-cetakan berikut, seringkali buku cetak versi paperback malah lebih murah.

Gara-gara artikel itu, saya jadi penasaran, gimana sih prospek e-book nantinya. Bener nggak dia bisa menggeser bahkan mematikan pasaran buku cetak?

Sebuah laporan dari eBook Newser mengungkap bahwa sampai saat ini sebanyak 35 juta e-book telah diunduh melalui iTunes. Sementara survey Marketing & Research Resources bilang, 40 persen dari 1.200 pemilik e-reader bilang, mereka sekarang menghabiskan waktu lebih banyak untuk membaca dibandingkan sewaktu belum punya e-reader. Lalu Amazon.com yang juga jualan e-books lengkap dengan e-reader-nya, Amazon Kindle, melaporkan bahwa para pemilik alat pembaca buku elektronik (e-reader) membeli 3.3 kali buku lebih banyak dari sebelumnya. Weits, dahsyat juga ya antusiasme masyarakat terhadap e-books?

Jadi deh, saya browsing. Trying to find out how popular e-books are compared to physical books. As a result, I can show you some pros and cons on e-books below.

Pros:
- Buku kalau sudah kelamaan alias tua, baunya jadi nggak enak (apek maksudnya)
- E-books lebih murah (apalagi yang bisa di-download gratis), karena biaya produksinya lebih rendah, nggak pake ongkos cetak.
- Lebih praktis. Cukup bawa satu e-reader atau media baca e-book lainnya (laptop/notebook, iPad) udah bisa muat beratus-ratus bacaan.
- Nggak pake lecek, meskipun dibaca berkali-kali
- Lebih gaya, kalau bawa-bawa e-reader serasa jadi orang paling up2date sedunia
- Di rumah juga nyimpennya nggak makan tempat, nggak kayak nyimpen buku
- Lebih ramah lingkungan, nggak perlu nebang-nebang pohon buat bikin kertas
- Kadang nyari buku-buku klasik itu susah, secara udah nggak dicetak lagi. Tapi di e-book banyak tersedia

Cons:
- Buku tua baunya enak lagi! Sedep!
- Kalau mau cari yang gratis, buku cetak juga banyak yang gratis: di perpustakaan. Malah nggak usah pake modal e-reader.
- Lebih praktis? Emang bisa, baca dari laptop sambil tiduran? Buku dong, bisa dibaca dalam berbagai posisi. Okelah pake e-reader, tapi kelamaan melototin layar monitor, mata bisa jereng.
- Nggak pake lecek, tapi pake sakit mata.
- Gaya sih gaya, copet tuh pikirin! Nggak ada copet suka buku.
- Nyimpennya memang nggak makan tempat, tetapi begitu perangkat bacanya hilang atau dicuri, simpenan bacaan juga ikutan hilang
- Ramah lingkungan? (speechless—nggak punya jawaban)
- Buku klasik kalau dapet bukunya bisa jadi semacam investasi. Makin dicari, harga makin mahal

Nah lu. Ikutan yang mana tuh? Saya sendiri belum terlalu familiar sama e-books. Saya pernah download komik Tintin sama Asterix gratisan dari internet (lumayan, bisa buat kamuflase di kantor, baca komik tapi teuteup melototin komputer hihi…). Pernah juga download cerita bersambung dari website majalah Femina. Tapi selain itu, saya belum ada niatan buat beli e-reader ataupun mulai mengoleksi e-books. Saya masih senang menikmati kenyamanan membuka lembaran-lembaran buku, menghirup aroma kertasnya, meskipun sekarang feeling guilty juga kalau ingat konon untuk menerbitkan Harry Potter the Order of Phoenix (seri yang ke-5) di Kanada sana dikabarkan mereka tadinya perlu menebang 39.320 pohon (!), tapi akhirnya diputuskan pake kertas daur ulang (fiuuuh…).

Ada yang bilang, penolakan terhadap e-books dengan tetap membeli buku cetak konvensional itu cuma masalah sentimentalitas. Karena sudah jadi bagian dari hidup sehari-hari selama bertahun-tahun, orang nggak siap dan nggak tega buat meninggalkannya. Menurut mereka (para fans e-books) pada akhirnya, e-books-lah yang lebih bisa menjawab kebutuhan jaman yang semakin menuntut praktikalitas.

Dari sisi penulis bukunya sendiri juga mereka sudah mulai melirik potensi sebagai penulis e-book. Katanya keuntungannya lebih banyak. Royalti lebih tinggi (entah gimana ngitungnya), pajaknya nol (belum ada pajak buat e-book), distribusi pemasaran murah (nggak pake ongkos kirim paket), isi juga lebih gampang di-update (nggak perlu nunggu edisi pertama abis, buat nyetak edisi kedua dan seterusnya).

Hal ini tentu saja membuat industri percetakan jadi ketar-ketir. Nggak cuma para pengusahanya, tapi juga para karyawannya yang bakal terancam kena perampingan pegawai (maksudnya cuma yang ramping aja yang boleh terus kerja, hihihi), begitu konsumen mulai beralih ke e-books yang notabene nggak perlu proses pencetakkan, penjilidan, ataupun pengiriman fisik. Apalagi pemerintah juga sudah melontarkan wacana untuk membeli hak cipta penerbit buku pelajaran sekolah tertentu untuk dijadikan e-book gratis (weits, enak juga nih orang tua murid kayak saya, berkurang anggaran beli buku sekolah!).

Hmmh…kayaknya saya juga harus mulai berpikir untuk punya e-reader nih. Tapi…gimana dengan rutinitas belanja ke toko buku saya sama keluarga? Kalau cuma untuk dapetin e-books, bukannya saya cukup duduk manis depan komputer yang terkoneksi jaringan internet di rumah? Padahal saya sangat menikmati aktivitas belanja buku. Anak-anak saya juga semangat sekali kalau diajak ke toko buku. Mencari-cari buku di rak, membuka-buka buku sebelum dipilih, melihat-lihat gambarnya dengan warna-warna yang semarak.

Sebenarnya, kenapa sih e-book harus dipertentangkan dengan buku cetak konvensional? Seolah, pilihan terhadap yang satu akan mematikan eksistensi yang lain. Toh keberadaan surat kabar online juga terbukti tidak mematikan industri surat kabar cetak. Atau, keberadaan Google juga tidak menyurutkan penerbitan RPUL. Atau lagi, keberadaan toko-toko online juga tidak membangkrutkan toko-toko yang menempati bangunan fisik. Ini hanya masalah tambahan pilihan. Kalau dulu orang cuma punya pilihan beli buku kalau mau baca sebuah novel bagus terbitan terbaru, sekarang mereka punya pilihan untuk membeli versi elektroniknya. Setiap orang bisa punya preferensi masing-masing. Ada kalanya kita perlu versi elektronik-nya, tapi ada kala lain kita pengen versi cetaknya.

Dari sisi pembaca yang berprinsip bahwa bacaan itu dikoleksi dari apa yang sudah dibaca, bukan apa yang dimiliki, mungkin bukan isu penting bagi mereka apakah mereka membacanya dari buku cetak atau dari e-book. Tapi dari sisi kolektor seperti yang saya bahas di postingan tentang “Kisah Para Penggila Buku”, pasti dong tetap setia untuk memilih buku cetak konvesional. Masa mau ngisi perpustakaan pribadi atau ruang display barang koleksi dengan buku-buku elektronik. Nggak mungkin kan?

So, e-books or printed books? The choice is yours…


DN