Tampilkan postingan dengan label bacaan favorit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bacaan favorit. Tampilkan semua postingan

Senin, 24 Oktober 2011

Buku Perjalanan

Saya selalu senang baca buku-buku perjalanan. Buat saya para travellers itu adalah orang-orang dengan kehidupan yang menarik, dinamis, karena selalu menemukan pengalaman baru di banyak tempat yang berbeda dengan orang-orang yang berbeda dan berbagai jenis kebudayaan yang berbeda. Akan lebih mengagumkan lagi jika mereka berhasil menaklukan berbagai tantangan yang mereka temui di perjalanan mereka dengan tabah dan berani tanpa banyak keluh kesah bahkan menjadikannya sebagai sebuah pelajaran hidup yang berharga (meski kadang saya tidak tahan untuk tidak berkomentar: “Sakit jiwa nih orang!”).

Saya kagum karena saya tahu bahwa saya tak akan pernah berani melakukan hal yang sama seperti yang mereka lakukan. Membayangkan diri menjejakkan kaki di sebuah sudut dunia yang sama sekali asing seringkali tanpa teman atau bekal yang memadai, baik bekal hardware (logistik) maupun software (pengetahuan), rasanya badan saya sudah menggigil duluan. Jadi, hai para petualang, jika saja aku pakai topi maka akan kuangkat topiku untukmu...


Makanya, meskipun tampak asyik, saya tidak terkesan dengan chich and stylish travelling yang dianjurkan Amelia Masniari dalam serial Miss Jinjing-nya: “Belanja Sampai Mati di China” maupun “Belanja Sampai Mati di Jepang” (yaiyalah, wong dia melakukan perjalanan dalam rangka shopping trip...). Naik penerbangan nyaman, hotel berbintang, jamuan mewah, dan last but not least: shopping spree. Ini mah semua orang (asal punya duit) juga bisa!


Saya malah lebih terkesan dengan perjalanan backpacking mantan adik ipar Miss Jinjing, Trinity the Naked Traveller, yang oleh Miss Jinjing dibilang jenis perjalanan yang boro-boro bisa dinikmati, tapi namanya menyiksa diri. Nyari-nyari low cost airlines, penginapan murah meriah (malah kalau bisa gratis), makanan maupun transportasi lokal yang satu kriteria dengan penginapannya. Benar, perjalanan jenis ini bisa dilakukan oleh lebih banyak orang karena budget friendly, tapi saya yakin tidak banyak orang yang punya nyali seperti Trinity, mengunjungi puluhan negara asing sambil bertaruh dengan keberlangsungan hidup di sana karena minimnya dana.


Membaca kisah perjalanan para ‘petualang berani susah’ itu (kalau bilang ‘berani mati’agak lebay kayaknya) bisa sama asyiknya seperti membaca cerita fiksi fantasi, sesuatu yang sangat berjarak dari realitas hidup para pembacanya yang nyaris rutin dalam lingkaran zona nyaman. Ada pesona dunia lain yang terasa seperti negeri antah berantah, ada ketegangan saat hambatan dan persoalan muncul yang membuat kita tanpa sadar berdoa untuk keselamatan ‘sang jagoan’ maupun membenci para penghambat atau pembuat persoalan yang dimata kita jadi mirip penjahat (kadang memang beneran penjahat sih).


Sejauh ini juaranya bagi saya adalah Agustinus Wibowo. Setelah terkagum-kagum dengan petualangannya di Afganistan dalam buku ”Selimut Debu” (sudah pernah dibahas di-bog ini sebelumnya), saya kembali terpesona dengan perjalanannya di negara-negara ‘stan’yang dirangkum dalam buku “Garis Batas”. Bayangkan, Tajikistan, Kirgizstan, Kazakhstan, Uzbekishstan, dan Turkmenistan, negara-negara yang, berani taruhan, termasuk pada urutan terbawah dalam daftar negara tujuan wisata para pelancong dunia. Saya sendiri tahun 2007 hampir mendapat penugasan dari kantor untuk mengunjungi tiga diantaranya sekaligus, dan bernafas lega saat penugasan itu akhirnya dibatalkan.


Dan Agustinus seperti biasa mengunjungi negara-negara tersebut bukan sebagai wisatawan yang mengunjungi places of interest bertolak dari tempat peristirahatannya di hotel yang nyaman. Yap, sekali lagi dia berkelana seperti layaknya seorang backpacker, tapi lebih daripada backpacker, Agustinus tidak terburu-buru dalam perjalanannya, dia berusaha melebur dalam denyut nadi kehidupan masyarakat setempat walau untuk itu dia beberapa kali mengalami hal yang tidak mengenakkan.


Agustinus menamai rangkaian pengalaman travelling-nya di negara-negara ajaib itu sebagai ‘perjalanan kemanusiaan’, dan pilihan judul “Garis Batas”adalah benang merah yang menghubungkan antara kisah perjalanan yang satu dengan yang lainnya. Garis batas yang dimaksud di sini tidak hanya menyangkut isu teritorial (geografis) tapi menyangkut juga berbagai hal yang membangun identitas (kultural, etnis, politis, religis) yang memunculkan terminologi ‘kita’dan ‘mereka’.


Tapi saya tidak bermaksud untuk melulu membahas perjalanan Agustinus Wibowo di sini, mungkin lain kali. Saya lebih ingin menyampaikan apresiasi kepada para travelers yang mendedikasikan perjalanannya untuk sesuatu yang lebih dari sekedar wisata, berlibur, refreshing, atau apapun namanya yang digunakan oleh kebanyakan orang mengenai acara berpergian mereka. Kalaupun tidak didekasikan untuk alasan semulia kemanusiaan seperti Agustinus, yah at least untuk berbagi pengalaman atas sesuatu yang memang beharga untuk dibagi atau diketahui oleh orang lain,meskipun mungkin awalnya tujuannya murni pragmatis seperti kisah perjalananmencari makna cintanya Franz Wisner dalam buku “Honeymoon with My Brother”dan “How the World Makes Love” yang merupakan pelariannya setelah gagal menikah dengan sang pacar (eh, kalau dipikir-pikir, mirip tema perjalanannya Elizabeth Gilbert dalam “Eat, Pray and Love” ya?).


Buku kisah perjalanan unik lain yang pernah saya baca adalah “Around the World in 80 Dinners” atau perjalanan kulinernya suami-istri ahli masak Cheryl dan Bill Jamison di 10 negara: Indonesia (Bali), Australia, Kaledonia Baru, Singapura, Thailand, India, China, Afsel, Prancis dan Brasil. Ini asyik, bukan golongan petualang berani susah, tapi juga tidak sok berkelas seperti Miss Jinjing. Pasangan Jamison mungkin kadang harus berhemat di satu sisi (seringnya di aspek akomodasi), tapi kalau untuk urusan makan mereka benar-benar konsisten dengan tema perjalanannya: mencicipi kuliner setempat yang terbaik! Benar-benar petualangan yang membuat iri...


Oke, ada perjalanan belanja yang chich and stylist (Miss Jinjing), perjalanan jujur apa adanya alias naked travelling (Trinity), perjalanan kemanusiaan (Agustinus Wibowo), perjalanan mencari arti cinta (Franz Wisner), perjalanan kuliner (the Jamisons). Saya sendiri sudah melakukan perjalanan ke lebih dari 10 negara di hampir semua benua kecuali Afrika, dan kalau harus menamai rangkaian travelling saya dengan satu tema, maka saya akan menyebutnya.....perjalanan dinas! Hehehe, lha wong kunjungan saya ke berbagai negara tersebut adalah dalam rangka dinas kok (meskipun beberapa diantaranya saya kunjungi lagi bersama keluarga untuk vacation). Jadi kunjungan saya ke negara-negara tersebut utamanya ya untuk kerja. Kalau ada waktu atau dana lebih baru bisa diselingi acara field-trip, shopping (kebanyakan untuk oleh-oleh), atau wisata kuliner (kalau tidak terlalu banyak isu halal-haram).


Hmmh ada yang bisa di-share nggak ya? Yah, kalau harus menuliskan perjalanan-perjalanan saya tersebut ke dalam sebuah buku, pengalaman atau pelajaran yang akan saya coba sharing ke para pembaca adalah bagaimana melakukan sebuah perjalanan yang membawa misi merah-putih (baca: negara), bernegosiasi atau berdiplomasi dengan berbagai macam karakter bangsa untuk memperjuangkan kepentingan nasional di panggung internasional! Halah...


Eh, lagian kalaupun ada buku perjalanan seperti itu, siapa juga yang mau baca?
:)

DN

Minggu, 21 Februari 2010

Agatha Christie: Si Ratu Cerita Misteri

Ini pengarang favorit saya sepanjang masa yang buku-bukunya paling mendominasi lemari buku saya dan cerita-ceritanya sudah ikut mewarnai hidup saya sejak remaja sampai sekarang.

Tapi sebenarnya saya sudah mulai berkenalan dengan buku Agatha Christie sejak kelas 6 SD. Buku Agatha Christie pertama saya judulnya “Pembunuhan di Orient Express” punya ayah saya yang cetakkan tahun 1978 (sampai sekarang masih saya simpan!).

Pembunuhan di Orient Express menceritakan tentang terbunuhnya seorang penculik di dalam kereta mewah Orient Express yang sedang melintasi benua Eropa, dan pembunuhan itu dilakukan oleh…12 orang penumpangnya plus kondekturnya secara berkomplot. Detektif jagoannya tak lain dan tak bukan adalah Hercule Poirot dengan kumisnya yang legendaris!

Saat itu saya tidak langsung jatuh cinta pada Agatha Christie. Yang ada saya bingung dan bolak-balik menengok ke daftar tokoh yang ada di halaman depan buku karena saya tidak kunjung hapal nama-nama tokoh yang sedang diceritakan. Bacanya pun jadi lama. Jadi, saya hanya sempat membaca satu buku Agatha Christie selama di bangku SD, karena kapok. Baru mulai membaca lagi saat sudah di bangku SMP ketika nalar sudah lebih berkembang.

Kenapa saya suka Agatha Christie? Pertama, saya suka cara dia mengemas misterinya. Kebanyakan pembunuhnya selalu orang yang tak terduga dan baru terungkap di akhir cerita lengkap dengan argumentasinya. Beberapa temen saya menganggap cara itu membosankan. Suami saya malah bilang, “Nebak pembunuh di Agatha Christie itu gampang. Cari aja orang yang paling nggak mungkin, pasti dia pembunuhnya!”

Oke, pendapat itu to some extent mungkin benar, meskipun bukan berarti dengan prinsip itu para pembunuhnya selalu mudah di tebak. Buku Agatha Christie yang dinilai oleh para pengarangnya sebagai karyanya yang terbaik “Pembunuhan atas Roger Ackroyd” (buku saya yang ini hilang! Sebel deh) secara mengejutkan memunculkan si “aku” atau orang yang sudut pandangnya digunakan untuk memaparkan cerita, sebagai pembunuhnya! What a surprise

Pola yang sama juga ada di cerita “Misteri Tujuh Lonceng” meskipun menggunakan sudut pandang orang ketiga atau si “dia” bukan si “aku”. Sementara di “Tirai” yang merupakan misteri terakhir yang ditangani Hercule Poirot, kejutannya muncul karena ‘dengan teganya’ si Ibu Agatha menjadikan tokoh kesayangannya itu sebagai pembunuh sebelum Poirot sendiri akhirnya bunuh diri (meskipun yang dibunuh memang orang yang ‘layak dibunuh’ alias penjahat).

Tapi pesona cerita Agatha Christie buat saya bukan karena kejutan tentang siapa pembunuhnya, tapi argumen psikologis yang digunakan untuk membangun alasan mengapa seseorang menjadi pembunuh dan seseorang menjadi korban pembunuhan. Hercule Poirot di banyak buku sering bilang, “Bagi saya yang terpenting adalah mengetahui dengan baik karakter si korban semasa dia masih hidup.” Karena menurutnya dengan mengetahui karakter si korban, dia jadi bisa mengetahui ‘psikologi pembunuhan’ itu yang akhirnya bisa membantu mengungkap identitas si pembunuh.

Kedua, meskipun genre-nya misteri dengan spesifikasi misteri pembunuhan, tapi cerita kriminalnya nggak vulgar. Nggak ngumbar darah atau kekerasan, dibanding Dan Brown, misalnya. Meskipun saya juga penikmat Dan Brown, tapi sampai sekarang saya masih suka ngeri dan melompati bagian the way the victim is killed or tortured. I just couldn’t stand it. Ada sih di beberapa cerita Agatha Christie yang korbannya wajahnya dirusak untuk mengaburkan identitas si korban, tapi prosesnya dan detail seberapa rusaknya tu wajah, nggak pernah diceritain.

Ketiga, saya suka cara Agatha Christie menyelipkan cerita cinta diantara jalinan cerita misterinya, meskipun nggak selalu ada. Buat saya kisah cinta ala Agatha Christie nggak picisan, atau mesum seperti cerita-cerita Sydney Sheldon. Paling banter ciuman, itupun nggak detail ngebahasnya. Jadi bacanya nggak bikin jengah. Mungkin itu memang khas Inggris yang dikenal sebagai bangsa yang kaku dan nggak ekspresif. Jadi pengungkapan perasaan antara si tokoh pria dengan tokoh wanitanya terkesan subtle (but sweet…). Favorit saya adalah kisah cinta dalam “Pria Berstelan Coklat”. Malah kayaknya ini buku Agatha terfavorit saya. Saya menyukai kalimat dalam Bab I yang memperkenalkan si tokoh Anne Beddingfeld (si “aku”) yang bunyinya, “Aku selalu ingin bertualang. Soalnya hidupku datar-datar saja…”

Tapi bicara tentang kejutan identitas si pembunuh dalam Agatha Christie, saya punya cerita waktu saya duduk di bangku SMA. Waktu itu saya punya teman sebangku namanya Dany (cewek) yang kebetulan sama-sama ngefans sama Agatha Christie dan koleksinya juga lumayan banyak. Jadi kita suka saling pinjam. Tapi ngeselinnya, dia suka iseng nulis nama pembunuhnya di halaman pertama buku. Gede-gede lagi hurufnya. “Pembunuh: si X.” Nyebelin kan? Soalnya jadi nggak asyik bacanya. Akhirnya salah seorang temen yang juga rajin pinjem buku dia bilang, “Kalau baca buku Agatha Christie punya Dany, lompatin aja halaman pertama.”

Beres? Nggak juga. Soalnya setelah tau temen-temennya menghindari halaman pertama, si Dany jadi ngubah trik dengan melingkari nama si pembunuh di tengah-tengah buku pake tinta merah dan ditambahi keterangan “Ini lho pembunuhnya!” Cappee…

DN


Kamis, 18 Februari 2010

The Reason Why I Love Reading

Sebagian orang mungkin menganggap ini hobi yang paling standar dan paling nggak kreatif sedunia (dibanding hobi travelling atau memasak misalnya). Tapi ada juga yang menganggap ini hobi yang bagus, edukatif, bikin pinter, mencerahkan...

Whatever people say, I love reading.

10 things why I love reading so much:

1. Nggak bikin capek, karena kebetulan saya bukan perempuan outdoor-type;

2. Nggak mahal, coba bandingin harga bacaan sama harga peralatan golf, peralatan masak, ongkos pesawat bagi yang hobi travelling, atau harga barang-barang fashion buat yang hobi belanja;

3. Nambah tahu, jadi punya bahan buat ngecap;

4. Bisa berimajinasi. Saya nggak pernah bergaul sama vampire, tapi dengan baca buku-bukunya Stephenie Myer, saya jadi bisa ngebayangin kayak apa;

5. Bisa buat melawan insomnia, dengan catatan: bukan buku thriller;

6. Bisa buat diet. Ada penelitian yang menyebutkan, membaca bisa mengalihkan rasa lapar, dengan catatan: bukan buku resep-resep masakan, atau buku "Kelas Memasak Lilian"-nya Erica Bauermeister;

7. Bisa buat melawan patah hati. Sumpah, saya pernah berhenti menangis gara-gara urusan cinta cuma dengan baca buku "Arok-Dedes"-nya Pramudya Ananta Toer;

8. Kegiatan yang efektif untuk mengusir rasa bete. Saya pernah nunggu penerbangan yang didelay 6 jam di bandara Perth dengan hanya ditemani "Harry Potter: The Half Blood Prince";

9. Bisa buat ngusir orang yang ngeselin. Coba deh kalau di deket kita ada orang ngeselin yang ngajak ngomong terus dan nggak mau pergi-pergi. Pura-pura khusyuk baca aja, dijamin palimg lama 5 menit, dia akan cabut!

10. Bahan bacaan bisa dijadiin senjata. Nggak percaya? Tanya George Aditjondro!


My Favorite Kind of Readings: Novel fiksi, Majalah wanita (secara ibu-ibu...)

Childhood Readings (SD sampai SMP):
- Wayang R.A. Kosasih (dari Mahabarata sampai Prabu Udayana plus Ramayana, Arjuna Sasrabahu, dll)
- Laura Inggals Wilder (dari Rumah Kecil di Rimba Besar sampai Surat dari Jauh)
- Enyd Blyton: Lima Sekawan, Pasukan Mau Tahu, Sapta Siaga, Malory Towers, St. Clare's, si Badung
- Astrid Lindgren
- Alfred Hitchcock
- Karl May: Winnetou
- Tetsuko Kurayanagi: Totto Chan
- Lupus dan buku-bukunya Hilman Hariwijaya
- Komik/Cergam: Tintin, Arad Maya, Nina, Trigan, Smurf
- Majalah: Bobo, Ananda, Kawanku, Kuncung, Halo

Teenage Readings (SMA sampai kuliah):
- Agatha Christie (my favorite detective book, koleksi saya hampir lengkap!)
- S. Mara Gd
- Sydney Sheldon
- Mira W.
- Marga T.
- N.H. Dini
- Buku-buku politik dan hubungan internasional (tuntutan studi!)
- Buku-buku filsafat: Dunia Sophie dan buku-buku aliran Critical Theory (!)
- Biografi: kebanyakan politisi/negarawan
- Komik/Cergam: Asterix, Lucky Luke, Agen Polisi 212
- Komik-komik Jepang: Candy-candy, Popcorn, Miss Modern, Pansy, dll
- Majalah: Hai, Gadis, Mode, Aneka, Anita Cemerlang

Grown-up (to not say Adult!) Readings (lulus kuliah sampai sekarang):
- Pramudya Ananta Toer
- John Grisham
- Dan Brown (koleksi lengkap)
- Chicklits (with favorite author: Sophie Kinsela!)
- J.K. Rowling (koleksi lengkap)
- J.R.R. Tolkien
- Stephanie Myer
- Eiji Yoshikawa
- Albertiene Endah
- Dee
- Andrea Hirata
- Buku/artikel/jurnal ekonomi dan isu internasional (tuntutan kerja!)
- Buku-buku agama (secara udah umur...), terutama yang terbitan Mizan
- Buku-buku masak (contekan buat di dapur)
- Majalah: Femina, Dewi, Bazaar, Vogue
- Tabloid: Nova, Rumah
- Koran: Kompas (kalau di rumah), Media Indonesia (kalau di kereta Jabodetabek), Jakarta Post (kalau di bandara), Bisnis Indonesia, Kontan (kalau di kantor)
- Media Online: kompas.com, detik.com, tempointeraktif.com
- And many more...


The Reason Why I Write This Blog:

To share with you the joy of reading! As Dr. Seuss says:
"The More that you read, the more things you'll know. The more that you learn, the more places you'll go."

Salam,
DN