Sabtu, 02 Oktober 2010

Buku baru: The Carrie Diaries (Candace Bushnell)

Ini buku barunya Candace Bushnell tentang Carrie Bradshaw sebelum era Sex and the City. Tapi bukan berarti buku ini ditulis sebelum Candace menulis cerita yang kemudian menjadi serial TV beken itu. Justru sesudahnya. Ini buku cetakan 2010, dan kayaknya belum beredar di Indonesia. Saya beli di toko buku Times Singapura bulan Agustus kemarin. Dan bulan lalu saya browsing di Periplus dan Kinokuniya Plasa Senayan, saya tidak melihat kedua toko yang banyak memiliki buku impor itu memiliki novel ini. Mungkin habis, mungkin terselip atau terlewat dari mata saya, bisa juga.

Tadinya saya berharap akan menemukan rintisan jejak Carrie yang ‘branded fashion freak’ dalam buku ini. Gambar cover-nya pun sudah menjanjikan demikian: tas atau lebih tepat dompet besar berwarna emas dengan tulisan ‘Carrie’ berwarna pink di atasnya. In fact, that’s the only fashion item she mentioned in the book. She didn’t even mention about the brand. The only explanation given is that it was bought by Carrie’s mother in France and it’s so expensive.

Oh sori, masih ada satu lagi. Sepatu. Buku ini dibuka dengan babak hari pertama Carrie masuk SMU yang disambutnya dengan mengenakan sepatu boot putih berbahan patent leather. Ini adalah statement shoes Carrie yang ingin menyambut hari barunya di SMU dengan tekad untuk membedakan diri dari murid kebanyakan. Sepatu itu adalah barang vintage tahun 1970-an yang sudah sedikit retak di salah satu bagian. Sedangkan purse handbag emas di atas tadi adalah fashion item Carrie yang paling berharga peninggalan ibunya yang sudah meninggal dan diperebutkan antara Carrie dan her rebellious youngest sister, Dorrit. Dorrit yang ceroboh memercikkan cat kuku berwarna pink di atas tas tersebut sehingga Carrie terpaksa me-make over-nya dengan menambahkan namanya di tengah percikan-percikan itu dengan cat kuku yang sama. Hasilnya: banyak orang terpikat dengan kreativitas Carrie yang dianggap sangat artistik. That’s all about fashion.

Sisanya, yang mengambil porsi terbesar, adalah cerita masa remaja Carrie yang sudah diwarnai dengan passion atas dunia tulis-menulis dan keinginan menjadi penulis, cool (or hot?) guys, friendship, dan persaingan antar gank cewek keren sekolah, dengan gaya yang sangat Amerika sekali. Semua itu terjadi di kota masa kecil Carrie, Castlebury, yang jauh dari New York, kota masa depannya.

The hot guy dalam cerita ini adalah Sebastian, cowok yang sudah menjadi pria impian di awal masa remaja Carrie, namun sempat pergi meninggalkan Castlebury, mengunjungi dan tinggal di daerah-daerah keren seperti Eropa, sebelum akhirnya kembali lagi ke kota kecil ini dan membuat gempar jagad pergaulan Castlebury yang sempit. Meski bersaing dengan sang primadona high school, Donna LaDonna, Carrie berhasil memenangkan hati Sebastian yang menganggapnya tidak saja menarik namun juga lebih cerdas dan menantang dibandingkan cewek-cewek kebanyakan. Namun pada akhirnya, yang menjadi orang ketiga dalam hubungan Sebastian-Carrie malah sahabatnya sendiri, Lali. Lali lebih memilih mengkhianati persahabatannya demi this irresistible sexy boy! Carrie sendiri juga bukannya tidak memiliki godaan dari sisinya. Ada George, mahasiswa Brown yang sebenarnya charming, cucu seorang penulis terkenal yang diidolai Carrie, namun terlalu ‘serius’ bagi usia Carrie yang masih dalam fase ‘pemberontakkan’.

Tidak ada kesimpulan siapa akhirnya yang menjadi sang pangeran-nya Carrie dan bagaimana kelanjutan dari persahabatannya dengan Lali. Cerita ini ditutup dengan kepergian Carrie ke New York setelah ia diterima di tempat kursus menulis bergengsi di kota besar impiannya tersebut, dan tanpa direncanakan bertemu dengan one of her best friends ever, Samantha Jones.

Terus terang saya merasa agak terkecoh dengan novel ini. Rasanya saya sudah terlalu tua untuk membaca novel yang ceritanya high school banget. Saya sempat berharap, karena Candace bukan penulis cerita remaja, ceritanya akan lebih dewasa meski tokoh utamanya seorang murid SMU. Walaupun pola pikir Carrie sebagai sulung dari tiga bersaudara dalam keluarga tanpa kehadiran seorang ibu membuatnya lebih matang dibandingkan teman-teman seusianya, tapi tetap saja, sajian kisah dan konflik di dalamnya lebih cocok dikonsumsi generasi 1-2 dekade di bawah saya. Carrie yang kritis, Donna LaDonna yang cantik, narsis dan egois, Maggie yang krisis pe-de dan terobsesi dengan tubuh ramping (baca: kurus), Lali yang atas nama cinta menghalalkan segala cara; semuanya merupakan karakter tipikal remaja cewek Amerika yang banyak kita temui di film-film ataupun serial TV remaja asal negeri Paman Sam.

Sebagai pembelaan diri (karena telah memilih novel ini), saya membelinya saat transit kurang lebih satu jam di bandara Changi, Singapura, dalam perjalanan ke Manila, Filipina, akhir Agustus 2010. Terburu-buru dan kondisi perut lapar (maklum Ramadhan) membuat saya menyambar apa saja yang pertama kali menarik mata saya (bayangkan, dengan cover yang keseluruhannya berwarna dasar gold, mana mungkin tidak eye catching?) tanpa sungguh-sungguh membaca sinopsis di sampul belakangnya.

Hehehe…ini jelas ngeles. Lha wong dalam kondisi perut penuh dan waktu yang tak terbatas pun saya sering salah pilih bacaan. Tapi yah lumayanlah. Dibilang nggak memuaskan, faktanya saya berhasil menghabiskan buku dengan ketebalan hampir 400 halaman disela-sela perjalanan 4 hari saya di Manila dan menyelesaikannya sebelum pesawat saya mendarat di Sukarno-Hatta. Nggak sesuai harapan bukan selalu berarti nggak asyik dibaca kan?

DN

Minggu, 05 September 2010

Data dan Referensi dalam Bacaan

Siapa bilang hanya karya ilmiah yang membutuhkan data dan referensi? Sebuah tulisan fiksi pun idealnya memiliki rujukan data dan referensi saat menyajikan latar belakang atau setting ceritanya. Apalagi kalau latar belakang atau setting cerita itu real bukan semacam dongeng. Meskipun fiksi itu dimaksudkan semata-mata menghibur, namun alangkah baiknya apabila para pembacanya tidak sekedar diberi refreshment tapi juga dijanjikan potongan-potongan pengetahuan untuk memperkaya wawasan dan khasanah pemikiran. Minimal, janganlah para pembaca ‘dibodohi’ dengan penjelasan yang apa adanya, apalagi fakta yang diselewengkan.

That’s why saya sangat salut kepada para penulis fiksi yang benar-benar mendedikasikan waktu, tenaga dan pikiran dalam menciptakan karya-karya mereka. Tidak semata-mata menulis (atau mengetik) apa yang ada di kepala mereka, tapi berusaha ‘mempertanggungjawabkan’ logika bercerita yang sedang mereka bangun dengan data dan referensi yang diupayakan akurat. Eiji Yoshikawa dan Pramudya Ananta Toer mengolah cerita-cerita mereka dengan setting sejarah jaman-jaman kerajaan yang detail. Karl May yang orang Jerman berhasil menciptakan setting Amerika Serikat yang cukup detail buat tokoh Old Shatterhand di serial Winetou-nya. Padahal konon waktu dia menuliskan buku itu sama sekali belum pernah menginjakkan kaki di bumi Amerika. Jadi hanya berbekal referensi tentang negara tersebut. Lalu Dewi 'Dee' Lestari bahkan sengaja mempelajari buku-buku science populer (padahal background-nya ilmu sosial) demi tercipta novel Supernova yang menggunakan konteks science. Masih ada Agatha Christie yang apabila sedang menggarap babak pembunuhan yang menggunakan racun, dia pun rajin mengumpulkan info tentang jenis-jenis racun berikut tingkat dosis yang mematikan dan reaksinya kepada sang korban. Tidak jarang Ibu Agatha berkonsultasi pada kalangan medis mengenai hal ini.

Jadi semuanya tidak asal ngecap atau asal tempel. Meskipun mungkin ada beberapa data yang tidak benar-benar tepat, tapi paling tidak usaha mereka patut dihargai tinggi. Apalagi di tengah keterbatasan akses terhadap informasi, seperti Pramudya saat menuliskan “Arok Dedes”, misalnya. Saya tidak bisa membayangkan darimana dia mengumpulkan informasi sejarah jaman Singosari yang begitu lengkap mengingat ketika itu dia sedang dalam masa penahanan di Pulau Buru. Kalau jaman sekarang sih kita tinggal meng-google untuk mendapatkan kepingan info yang kita butuhkan. Tapi 3-4 dekade yang lalu? Di pulau terpencil lagi!

Saya pun jadi kurang respek dengan para penulis yang mengabaikan detail-detail cerita seperti itu. Menyebut tokohnya sebagai wartawan, tapi tak ada sedikitpun cerita yang menggambarkan dunia jurnalistik yang digelutinya (seperti cerita-cerita sinetron Indonesia yang selalu menjadikan tokoh pria utamanya sebagai eksekutif muda, tapi satu-satunya gambaran yang mengindikasikan mereka sebagai eksekutif muda adalah saat mereka menandatangani setumpuk surat-surat yang disodorkan oleh sekretarisnya). Mengambil setting Papua, tapi tak banyak sudut Papua yang bisa ia gambarkan. Atau, mengambil setting jaman perang kemerdekaan tapi menciptakan sendiri nama-nama dan peristiwanya serta pilihan tempat kejadiannya, tanpa sedikit pun merujuk pada realita sejarah yang ada. Atau kalaupun mereka mencoba menyajikan detail, hal itu dilakukan dengan kesan ‘tempelan’ yang jelas sekali. Tidak benar-benar menyatu dengan alur cerita.

Bagi saya cerita-cerita minim-riset (saat riset sebenarnya dibutuhkan) atau abai-detail seperti itu bahkan menghibur pun tidak, malah justru menjengkelkan. Kalau memang tidak ingin repot dengan riset, maka sebaiknya para penulis itu memastikan bahwa apa yang ditulisnya adalah hal-hal yang dikenalnya dengan baik. Karena, menulis idealnya adalah sebuah kegiatan transfer of knowledge atau sharing experience. Terlebih mengingat membaca umumnya dimaknai sebagai suatu aktivitas positif yang mencerdaskan bahkan tak jarang menjadi indikator kualitas hidup suatu bangsa, sehingga para generasi muda pun didorong untuk lebih suka membaca. Apa jadinya kalau kegiatan yang dianggap mencerdaskan ini hanya dipenuhi dengan sesuatu yang ‘kosong’ atau bahkan ‘menyesatkan’?

Jadi ketika dalam sebuah tulisan fungsi transfer pengetahuan atau sharing pengalaman ini diabaikan atau malah dimanipulasi, maka apa yang lebih pantas dilakukan selain menyarankan agar tulisan tersebut masuk kotak untuk diberi segel ‘un-recommended readings’?

DN

Kamis, 02 September 2010

Baca Lirik Lagu

Lagu itu nggak cuma musiknya yang enak didengar, tapi kalau liriknya bagus pun asik untuk dinikmati, meskipun kita tidak sedang mendengar musiknya dimainkan. Saya mulai suka ‘membaca’ lirik lagu waktu kelas 1 SMP. Saat itu lagi senang-senangnya belajar Bahasa Inggris dan kebetulan nemu lirik lagu ‘Nobody’s Child’. Dengan telaten saya mencoba mengurai satu demi satu kata dalam syair tersebut dan dengan gembira menemukan: there’s a story behind it! Ada yang pernah dengar atau tahu lagu ini? Kayaknya cukup ngetop di tahun 1980-an dan sering masuk kaset atau CD ‘evergreen’. Tentang seorang anak panti asuhan yang buta dan selalu terlewat pada saat para calon orang tua angkat datang untuk memilih anak yang akan mereka adopsi. Quite touchy. "But when they see I’m blind, they always take some other child and I am left behind…"

Sejak saat itu saya jadi bisa menghargai sebuah lagu dari dua sisi: musik dan liriknya. Kadang meski musiknya nggak oke pun kalau liriknya asik, saya bisa jatuh cinta sama tu lagu, seperti ‘Jangan Menyerah’-nya D’Masiv. Saya nggak suka musiknya (dan jarang suka lagu-lagu boy band jaman sekarang), tapi menurut saya syair lagu itu cukup dahsyat. "Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah. Tetap jalani hidup ini, melakukan yang terbaik…"

Sebaliknya ada juga yang musiknya lumayan asik tapi liriknya nggak oke buat saya, yaitu lagu-lagunya Melly Goeslaw, Maia Estianty sama ABBA. Kadang malah terkesan asal tempel kata. Herannya, Dewi ‘Dee’ Lestari yang piawai sekali mengolah kata dalam novel, cerpen ataupun essay, pernah nggak oke banget nulis syair lagu yang judulnya 'Malaikat Juga Tahu' (di CD yang jadi bagian buku ‘Rectro Verso’-nya), terutama bagian yang ini: "Namun hati ini, silahkan kau adu. Malaikat juga tahu, siapa yang jadi juaranya" (goodness…).

Buat saya, syair yang bagus nggak perlu yang hebat-hebat amat kayak lirik lagu-lagunya Katon Bagaskara yang puitis dan nggak harus seperti Bimbo juga yang religius. Yang penting meaningful. Ini memang subyektif. Buat orang-orang yang lagi jatuh cinta ataupun putus cinta yang meaningful mungkin ya lagu-lagu cinta yang mellow dan penuh ungkapan perasaan hati. Buat yang perlu dorongan semangat atau optimisme, mungkin lebih memilih lagu-lagu kayak Greatest Love of All atau One Moment in Time-nya Whitney Houston, atau Hero-nya Mariah Carey. Buat para ibu-ibu di kampung yang sedang ditinggal sama suaminya jadi TKI mungkin lebih suka 'Jablay'-nya Titi Kamal. Buat para pensiunan atau yang mendekati masa pensiun lagu standarnya adalah My Way yang dipopulerkan oleh Frank Sinatra: "And now the end is near, and so I face the final curtain…"

Tapi sebenarnya nggak juga sih. Tahu lagu Take a Bow-nya Rihanna nggak? (bukan yang Madonna ya). Buat saya liriknya keren banget, meskipun saya sendiri tidak sedang (bahkan tidak pernah) mengalami apa yang diceritakan oleh lirik tersebut. Tentang seorang cewek yang merasa tertipu sekali dengan cowoknya yang ternyata selingkuh. Klasik memang. Tapi pilihan kata yang dimaksudkan untuk menyindir si cowok sebagai award-worthy actor, kena sekali.

"But you put on quite a show, really had me going
But now it’s time to go, curtain finally closing

That’s was quite a show, really entertaining
But it’s over now, go on and take a bow

And the award for the best liar goes to you

For making me believe that you could be faithful to me
Let’s hear you speech out"

Lalu Ben-nya Michael Jackson yang konon inspirasinya diambil dari pesahabatan Michael kecil dengan tikus dapur, liriknya juga keren. Yang lokal, ‘Ratu Sejagad’-nya Vonny Sumlang nggak kalah keren, lucu. Dari dulu saya suka. Selain itu yang religius favorit saya adalah ‘Akhirnya’-nya Gigi plus musiknya juga (syahdu bo!). Sssttt…ada rahasia saya yang sedikit norak. Kalau saya sedang berkunjung ke negara-negara lain yang maju dan makmur, kadang saya suka membatin bagaimana rasanya menjadi penduduk negara seperti ini. So, to make my heart not too desperate with such a situation (being an Indonesian for real hehehe), maka diam-diam saya suka menyenandungkan lagu ‘Tanah Air’-nya Ibu Sud. Bagi saya, diantara lagu-lagu nasional, atau dulu disebut lagu wajib, lirik lagu itu yang paling bisa membangkitkan rasa nasionalisme!

Kalau syair-syair lagu yang saya suka karena sesuai suasana hati saya sudah pasti ada. Banyak malah. Waktu saya sekolah di Australia dulu, lagu Bad Day-nya Daniel Powter lagi ngetop banget dan sering diputar di radio. Jauh dari keluarga, sendirian di negara orang, maka kalau sedang bete saya pun akan menyetel lagu itu keras-keras dan menyanyikannya (kalau sedang nggak ada orang tapi, biar nggak ditimpukin).

"Sometimes the system goes on the blink, and the whole thing turns out wrong
You might not make it back, and you know that you could be well oh that strong"

Sekarang kalau saya sedang ditinggal suami dinas ke luar kota atau ke luar negeri, rasanya saya jadi pengen menyenandungkan lagu You Belong to Me (bukan You Belong with Me-nya Taylor Swift lho!), yang sudah dinyanyikan dalam berbagai versi meski selalu dalam irama jazz.

"Fly the ocean in a silver plane. See the jungle when it's wet with rain
Just remember till you're home again. You belong to me…"

Cieee…, suit, suit!

To sum up, we can read almost anything so long as it can be transferred into alphabets!

DN

Senin, 23 Agustus 2010

Buku baru: Yogyakarta (Damien Dematra)

Novel aneh. Beneran deh. Apa ini sejenis karya sastra yang memang saya nggak terlalu familiar (karena lebih terbiasa dengan novel-novel pop)? Atau ini memang gayanya Damien Dematra (saya belum pernah baca novel-novelnya yang lain)? Tapi sumprit, saya kecele. Saya sudah kadung optimis dengan baca biografi-nya si Penulis (saya memang selalu baca biografi penulis sebelum mulai baca ceritanya). Coba aja, dia disebutkan sebagai seorang novelis dengan 62 novel, penulis 57 skenario film dan TV, sutradara sekaligus produser 28 film berbagai genre, fotografer internasional dengan berbagai penghargaan dan pelukis yang sudah menghasilkan 365 karya lukis!

Tapi kualitas karya tak selalu berbanding lurus dengan kemegahan CV. Ahmad Fuady yang baru menerbitkan novel pertamanya “Lima Menara”, bisa menulis jauh, jauh, jauh, lebih bagus daripada “Yoyakarta” yang merupakan novel ke-62-nya Damien.

Saya pikir Mas Damien waktu menulis novel ini pasti sudah membayangkan wujudnya dalam bentuk film (atau sinetron?). Karena itu gaya bertuturnya lebih mirip skenario film (sinetron) daripada novel. Terbukti di sampul depan buku ini langsung ada stiker: “Akan difilmkan segera! Buruan daftar!” (or something like that lah).

Sebenarnya ide ceritanya sih oke, tapi cara penyampaiannya--sorry to say--cekak. Mungkin karena keberatan misi ya? Sebab katanya dia bikin novel ini lantaran dititipin oleh Sri Sultan Hamengkubuwono X untuk mempromosikan Jogja dan juga untuk mendukung Gerakan Peduli Pluralisme. Tapi bukannya dengan misi yang demikian hebat dia seharusnya lebih memperhatikan logika dan kecerdasan bercerita?

Untungnya layout bukunya enak dibaca, huruf-hurufnya nggak terlalu rapat (terbitan Gramediaaa!). Jadi saya betah aja bacanya, sambil nunggu kejutan di akhir cerita dari seorang penulis 62 novel. Namun ternyata akhir ceritanya malah makin parah...

Ini beberapa catatan saya untuk novel tersebut:

1. Nama-nama tokohnya norak. Yudhistira Mangkubumi (ningrat Jawa), Olivia Purnakasih (China peranakan), Gerson Geraldi (Ambon), Yahya Tanadi (China Pontianak), Karta Parinduri (Medan), Tarjo Adikusuma (Madura), Ananda Karmila (ningrat Jawa). Pemilihan nama-nama yang tasteless ini ujung-ujungnya cuma buat membentuk kata Yogyakarta. Yudhistira, Olivia, Gerson, Yahya, Karta, Tarjo, dan Ananda. Plis deh…

2. Pendalaman karakternya kurang. Mungkin karena dengan hanya 250-an halaman, Damien merasa harus mengurai latar belakang dari 7 orang tokohnya-komplit! Kesannya jadi dangkal dan cuma tempelan. Tokoh-tokoh seperti Karta yang terobsesi menjadi penyanyi demi persaingan sang ibu dengan tetangga (?), Tarjo yang anak kiai korban poligami, nggak sempat tuntas dibahas atau didalami. Bahkan untuk Ibu Ananda sendiri yang dalam porsi cerita latar belakangnya yang cuma secuprit, Damien harus repot-repot menempelkan kisah cinta si Ibu Ananda yang kandas dengan teman sekolahnya Fritz, sehingga dia tidak pernah betul-betul mencintai suaminya yang merupakan hasil perjodohan. What’s the point? Nggak ada kaitan atau kontribusinya sama sekali dengan keseluruhan alur cerita.

Kalau pada akhirnya ini cuma cerita tentang Olivia yang Katolik berhasil menaklukan si gunung es Yudhistira yang Muslim (tapi nggak ada konflik atau dilema atas kondisi ini lho!), saya nggak melihat pentingnya Damien mengeksplorasi latar belakang tiap tokohnya satu-satu kalau itu artinya dia jadi terburu-buru menuntaskan kisah cinta dua tokoh sentral tersebut dengan alur dan penjelasan seadanya.

3. Nggak logis abis! Untuk apa si Ibu Ananda menuntut anak-anak kosnya buat sarapan bareng setap jam 6.15 pagi? (Iya, 6.15, saya nggak salah nulis kok) Kenapa Yudhistira betah menjomblo sampai umur 35 hanya karena kisah cinta singkat yang pahit waktu dia umur 15 (15 tahun man!) dengan seorang pemain flute negro di Amerika yang cuma dikenalnya selama 2 minggu tapi trus mati gara-gara nyiapin lagu perpisahan untuknya? (Iya, mati. Mau tau kenapa dia mati? Dia anak panti asuhan, dengan pengasuh yang galak, saking galaknya sampai bunuh tu cewek cuma gara-gara cewek itu mau ngambil catatan lagu yang sudah dibuatnya buat Yudhistira tapi ketinggalan di kamar si pengasuh. Maka, sejak saat itu Yudhistira menjadi dingin terhadap wanita. Padahal doi ceritanya ganteng, plus Master lulusan Harvard. Did you feel any sense?) Trus kok bisa Olivia dengan gampangnya minta ortunya membatalkan proyek perjodohannya dengan si Mr. Perfect karena dia lebih memilih Yudhistira (tanpa ada perdebatan sama sekali). Dan above all, kok bisa si Ibu Ananda ngadain program camping wajib (catat: wajib) tahunan dengan anak-anak kosnya di Candi Boko?

Sumpah, kalau jaman waktu kos dulu ibu kos saya minta saya bangun sebelum jam 6.15 buat ritual sarapan bareng dan ngadain program camping tahunan di candi, saya sudah cabut duluan meskipun dijanjikan kos gratis...

4. Nggak cerdas blas! Yudhistira yang kolumnis surat kabar, Puntadewa yang wartawan senior, Olivia yang mahasiswi sosiologi dan sedang riset keraton Jogja, sebenarnya merupakan bahan bagus buat eksplorasi kecerdasan sosial masing-masing. Tapi boro-boro kecerdasan sosial, wong ngomong tentang sejarah keratonnya aja kayaknya copy-paste dari buku panduan para guide keraton Jogja. Bahkan waktu Tarjo yang anak kiai ditanya, kenapa dia milih belajar akuntansi? Jawabannya: “Karena saya suka kesimbangan. Hutang dan harta.” Dan tanggapan si Olivia sebagai penanya: “Jadi kamu suka yang seimbang? Bintang kamu Libra dong…” Yailah...

Untuk Bung Damien, how did you get the idea that a story about pluralism always means complicated characters (but with poor handling)?

DN

Kamis, 05 Agustus 2010

Readings about Fashion

Saya suka bacaan seputar fashion, baik itu majalah, situs mode on-line atau buku. Meskipun saya sendiri bukan seorang fashion freak, tapi bagi saya benda-benda fashion itu asyik untuk dinikmati tanpa harus selalu dimiliki. Sama halnya seperti kita suka melihat lukisan di galeri atau melihat wajah-wajah indah di industri hiburan, but it does not always mean we want to own it or be part of it. I love fashion just as an observer.

Majalah fashion yang rutin saya ikuti adalah ‘dewi’, a local lifestyle mag. Sesekali saya beli Harper's Bazaar atau Vogue. Saya suka melihat-lihat baju-baju high end brands, It bags, statement shoes, atau apapun sebutannya untuk fashion items yang paling top. Prada, Gucci, Channel, Dior, Hermes, Chloe, Louis Vuitton, YSL, Bottega Veneta, Balenciaga, Armani, Versace, Ferragamo, Celine, Manolo Blahnik, Jimmy Choo, Christian Loubouttin,…you name it. Harus diakui, barang-barang tersebut memang memiliki kualitas design ataupun material yang membuat mereka worth paying at any price (bagi yang punya duit tapi!). Pernah dengar tas Birkin Croco-nya Hermes yang harganya bisa mencapai ratusan juta rupiah, tapi peminatnya ngantri bertahun-tahun di waiting list-nya Hermes (kalau mau cepet, ambil versi KW-nya aja di Mangga Dua—ada tuh segerobak!)?

Majalah selalu menyediakan informasi mengenai the latest trends yang ditampilkan baik dalam iklan-iklan yang ada, halaman mode, maupun ulasan/artikel dunia mode. Favorit saya di ‘dewi’ adalah rubrik ‘gaya’ yang mengulas barang-barang koleksi para fashionista terpilih, lengkap dengan wawancara mengenai personal style dan fashion item favorit mereka. Sangat menghibur (meskipun saya sendiri kadang masih suka bingung, ngintip isi lemari orang kok ternyata sedep juga ya?).

Untuk yang on-line, yang paling sering saya buka adalah ‘style.com’ yang selalu rutin meng-update bagian ‘look of the day’, ‘in the mood for’ atau ‘trends+shopping’. Dia juga menyediakan gambar dan info update mengenai para fashion icons, celebrities sampai pesta-pesta yang glamour and hip (tapi saya jarang baca bagian yang ini). Kadang saya juga browsing situsnya rumah-rumah mode kayak Hermes atau LV, buat lihat-lihat latest items-nya aja, terutama kalau pikiran lagi suntuk. Kan lumayan cuci mata tanpa harus keluar uang... (kecuali untuk biaya internet bulanan).

Beberapa waktu yang lalu, blog ‘belanja-sampai-mati’nya Amelia Masniari alias Miss Jinjing, sempat fenomenal. Pembahasan fashion items-nya nggak terbatas pada high end brands, tapi juga high street brands, local brands, ataupun brand lain yang sama sekali nggak terkenal tapi dianggap oke. Blog ini sangat bisa dinikmati karena gaya bertutur si Mbak Amy juga enak, santai dan gaul. Mbak Amy juga sempat menerbitkan tiga buah buku yang lumayan laris manis, yaitu: “Miss Jinjing: Belanja Sampai Mati,” “Miss Jinjing: Rumpi Sampai Pagi”, sama “Miss Jinjing: Pantang Mati Gaya.” Sayang, blog ini akhirnya tutup gara-gara si Miss Jinjing ribut sama suaminya yang polisi dan berakhir dengan perceraian. Tragis juga ya? (cape ‘kali tu pak polisi punya istri yang gaya hidupnya nggak berpijak ke bumi…).

Kalau buku, sekarang ini banyak juga novel-novel yang bercerita tentang dunia fashion. Di mulai dari Sex and the City-nya Candace Bushnell yang lanjut jadi serial TV, the Devil Wears Prada-nya Lauren Weisberger yang jadi film bioskop, seri Shopaholics-nya Sophie Kinsela, Bergdorf Blondes-nya Plum Sykes, sampai terakhir yang saya baca Fashion Babylon-nya Imogen Edwards-Jones & Anonymous. Yang saya sebut terakhir itu asyik banget buat dibaca, karena buku itu nggak cuma bercerita tentang barang-barang fashion, tapi juga tentang orang-orang yang berkecimpung di dunia fashion lengkap dengan gosip-gosipnya yang based on true story! Cek deh. Ada gosip tentang Kate Moss, Naomi Campbell, Scarlet Johanson, Gwyneth Paltrow, Karl Lagerfeld, Anna Wintour, dan cerita-cerita ‘di balik layar’ lainnya dari para designer, model, selebritis dan para fashionista dunia!

Untuk buku-buku lokal, Alberthiene Endah sempat mengikuti gaya Weisberger dengan novel “Cewek Matre”-nya yang bertaburan barang-barang branded. Trus ada “Beauty for Sale” dan “Beauty for Killing”-nya Fradhyt Fahrenheit yang maksa banget harus kelihatan glamorous ala Sex and the City. Lalu “I Beg You Prada”-nya Alexandra Dewi dan Cynthia Agustin (ini buku non-fiksi dan sebenarnya lebih tentang life style). Sayangnya, meskipun buku lokal, teuteup aja mereka lebih suka bicara brand asing. Padahal kan kayaknya asyik-asyik aja ya bicara tentang gaun-gaunnya Biyan, Sebastian Gunawan, Oscar Lawalata, koleksi jumputannya Ghea Panggabean atau batik-batiknya Edward Hutabarat. Tapi mungkin kesannya jadi kurang glamor atau kosmopolit…(yailah, penting banget ya?!).

That's why
saya sebenarnya salut sama Miss Jinjing yang dalam buku-buku maupun blognya selalu mendorong para pembacanya untuk lebih mencintai produk dalam negeri, kreasi anak bangsa sendiri. Tapi selain hal tersebut, saya juga belajar banyak dari Miss Jinjing terutama dari pengalaman hidupnya di atas, yakni nggak akan memupuk kebiasaan belanja-sampai-mati yang jadinya belanja-sampai-ditinggal-suami.

Makanya, lebih baik memilih baca-sampai-mati atau baca-sampai-disayang-suami...:)

DN

Rabu, 04 Agustus 2010

Buku-buku yang diangkat ke Layar Lebar atau Kaca

Sudah jamak kalau para sutradara film mengambil ide buat produksi mereka dari buku-buku yang laris manis di pasaran. Terutama buku dengan plot yang dinamis atau dramatis, seperti buku-bukunya Dan Brown, John Grisham, atau Tom Clancy (ya iyalah, kebayang nggak buku-bukunya Pramudya Ananta Toer yang kaya bahan perenungan tapi jalan ceritanya cenderung datar, dijadikan film? Siapa yang mau nonton?). Dan sudah jamak juga kalau film-nya pun jadi ikutan laris karena para pembaca buku itu ingin ‘mencocokkan’ antara apa yang ada di imajinasi mereka dengan visualisasinya.

Tapi tidak jarang kita kecewa dengan versi visual dari buku-buku yang sudah kita baca. Saat membaca, sadar atau tidak, imajinasi kita sudah membayangkan sosok para tokoh ataupun setting peristiwa dan suasana yang diceritakan dalam buku tersebut. Jadi ketika kita disodorkan bentuk visualnya yang berbeda dengan apa yang sudah terlanjur ada di kepala kita, it’s natural if we then get disappointed.

Misalnya, saya kecewa berat waktu tahu ternyata pemeran Sirius Black di film Harry Potter adalah Garry Oldman. I mean, why him? Why not Brad Pitt? Or, if they needed a Brit, why not Jude Law (hehe…emang pantes?), or Ewan McGregor! Soalnya, Sirius Black itu kan digambarkan sebagai lelaki yang garang, slebor, tapi charming… Dan Gary Oldman jelas-jelas nggak memenuhi kreteria yang disebut terakhir!

Belum lagi kalo sang sutradara memotong-motong jalinan cerita untuk menyesuaikan dengan keterbatasan durasi film. Padahal ada bagian-bagian yang justru kita anggap menarik untuk divisualisasikan, tapi itu dilewati. Kayak di film Confession of Shopaholic yang banyak memotong bagian kegiatan shopping-nya si Becky yang banyak ditemui di buku, atau usahanya untuk menghemat atau menambah penghasilan dengan kerja sampingan. Padahal justru di situ letak kelucuan ceritanya, bahkan esensi dari sisi shopaholic-nya.

Tapi itu masih mending dibandingkan dengan jika sang sutradara ‘sok kreatif’ dengan menambahkan tokoh baru atau adegan baru yang tidak pernah ada dalam versi originalnya hanya untuk menambah efek dramatis cerita. Rasaya kok kita seperti ‘dikhianati’…Ingat tokoh yang dimainkan Tora Sudiro dalam film Laskar Pelangi sebagai Pak Guru SD PT Timah yang jatuh cinta sama Ibu Muslimah? Atau penambahan adegan Pak Kepsek SD Muhammadiyah Belitung yang dibuat meninggal di sekolah? Tidak ada di buku aslinya bukan?

Di lain pihak, ada juga kok sutradara yang piawai mengangkat sebuah cerita buku ke layar lebar secara mencengangkan dan sangat bisa diterima meski dengan improvisasi. Juaranya menurut saya Peter Jackson dengan Lord of the Ring! Sumpah, si Frodo dan desa Hobbitnya persis yang saya bayangkan. Malah penggambaran kampung perinya si Legolas sama tampang-tampang serem para pasukan Sauron (para Orc) they're all beyond my imagination! Belum lagi si Gollum atau Smeagol. Peter Jackson really deserves his Oscar!

Lainnya, serial Laura Inggalls di TVRI dulu juga oke! Meski Michael London sama sekali nggak ada mirip-miripnya sama tokoh Pa di buku yang gambarannya berbrewok lebat, tapi yah secara dia produsernya what could we say? Tapi masih oke-oke saja sih…Penggambaran rumah kecil di atas bukit, dengan padang bunga, kolam atau palung kecil di dekat rumah, dan juga kota kecilnya dengan toko kelontong Mr. Oleson, dapet banget!

Nah, sekarang pertanyaannya, ada nggak yah film yang lebih bagus dari cerita aslinya di buku? Maksudnya, kita lebih suka sama filmnya daripada versi bukunya.

Sejauh ini menurut saya film Julie and Julia bisa dijadikan kandidat. Film ini sebenarnya bukan murni diangkat oleh sutradara Nora Ephron dari satu buku, melainkan penggabungan otobiografi My Life is France-nya Julia Child—seorang ahli masak terkenal Amerika tahun 1950-an dengan spesialisai masakan Prancis—dan blog-nya Julie Powell yang merupakan dokumentasi pengalamannya mencoba resep-resep masakan Prancis dari bukunya Julia Child tahun 2000an. To me, that’s a brilliant idea! Karena kalau Nora hanya mengangkat cerita murni dari buku My Life is France-nya Julia Child, bakal boring banget! Secara gitu loh, biografi ibu-ibu juru masak tahun 1950-an yang kerjanya melulu keluar masuk rumah makan di Prancis buat nyoba-nyobain masakan untuk diuji ulang didapur sendiri! Tapi dengan kombinasi setting 2000an-nya Julie Powell yang terobsesi untuk menguasai resep-resep masakan Julia sampai suaminya bete, cerita jadi jauh lebih dinamis!

Satu lagi, film yang tokoh visualnya lebih oke dari bayangan yang saya ciptakan. Tak lain tak bukan…Robert Pattinson sebagai Edward Cullen di serial Twilight! It’s really beyond my expectation. He’s much much more good-looking than the Edward Cullen in my own version! Bravo Ms. Hardwicke (but for this casting only)…!

DN

Sabtu, 10 Juli 2010

Buku Baru: The Sorceress (Michael Scott)

“The Sorceress” adalah sequel ketiga dari seri “The Secrets of the Immortal Nicholas Flamel”. Yang pertama adalah “The Alchemyst” (bukan the Alchemyst-nya Paolo Choelho lho!) dan yang kedua adalah “The Magician”. Genrenya fiksi fantasi. Model-model Harry Potter gitu deh! Tapi, kalau Harry Potter menggunakan setting dan tokoh dunia sihir hasil kreasi J.K. Rowling: ada sekolah sihir Hogwarts, peron kereta 9 ½, makanan khas dunia sihir, kota sihir Diagon Alley, olahraga sihir Quidditch dan tokoh-tokoh seperti Albus Dambeldore, Minerva McGonagal, Lord Voldemort; kalau dunia si kembar Sophie dan Josh—tokoh utama serial ini—dibangun oleh Michael Scott berdasarkan cerita-cerita mitologi dan legenda di Eropa yang ada dan dikombinasikan dengan berbagai setting real seperti Nicholas Flamel dan istrinya Parenelle (legenda manusia abadi di Eropa), John Dee (penyihir kerajaan masa lalu di Inggris), Nicolo Machiaveli, William Shakespeare, Billy the Kid, Joan de Arc, Mars Ultor sang dewa perang Yunani, Bastet Dewi Kucing Mesir, Sphinx Mesir, dan tempat-tempat seperti penjara Alcatraz San Fransisco, Gereja Notre Dame Paris , Katakombe Paris, Stonehenge Inggris.Hampir tidak ada kreasi baru. Semuanya tentang mitos kehidupan abadi dari tokoh dan legenda yang sudah terlebih dahulu ada, dan ide kehidupan abadi sendiri sama sekali bukan merupakan sesuatu yang asing di Eropa sono.

Sama halnya ketika saya menyadari bahwa dunia sihir merupakan bagian dan kepercayaan (yang ditolak) rakyat Inggris dengan membaca serial Harry Potter dan Jonathan Strange and Mr. Norell (seperti keberadaan dunia mistik di masyarakat kita-lah!), saya baru menyadari bahwa mitos kehidupan abadi itu ada ditengah-tengah masyarakat Eropa hampir sama seperti sebagian masyarakat kita mempercayai bahwa Nyi Loro Kidul tidak pernah mati di Laut Selatan sana. Tapi jika Nyi Loro Kidul digolongkan kepada makhluk gaib atau ‘dunia lain’, maka Nicholas Flamel dipercayai sebagai manusia biasa yang karena kepemilikannya atas kitab Abraham the Mage alias Codex yang berisi ilmu alkemi (perpaduan antara ilmu alam dan sihir) memungkinkannya menguasai ramuan untuk hidup abadi.

Menurut cerita ini, ada tiga jenis kehidupan abadi. Satu, kehidupan abadi yang memang dimiliki oleh para tetua atau manusia setengah dewa yang pada dasarnya immortal. Dua, kehidupan abadi yang disebabkan karena kemampuan menguasai ramuan alkemi yang diwakili oleh Nicholas Flamel (the alchemist). Dan tiga, kehidupan abadi yang diberikan oleh para tetua kepada manusia dengan imbalan berupa pengabdian kepada para tetua oleh manusia yang dianugerahi kehidupan abadi yang diwakili oleh John Dee.

Inti ceritanya begini. Nicholas Flamel telah hidup berabad-abad dengan istrinya Parenelle (the sorceress atau pengendali hal-hal gaib). Mereka memiliki buku sakti Codex, yang selain berisi rahasia kehidupan abadi, sihir dan ilmu-ilmu gaib lainnya, juga berisi mantra untuk membangkitkan kembali dunia lama para dewa dan tokoh mitologi lainnya yang hanya dipercaya sebagai sebuah legenda kuno. John Dee (the magician atau sang penyihir) ditugaskan oleh para tetua untuk memburu Flamel dan kitab Codex-nya. Flamel sendiri terus hidup dalam penyamaran dan berpindah-pindah dari satu negara ke negara lainnya sambil mengemban satu misi lain: mencari anak kembar yang dipercaya oleh ramalan sebagai “dua yang menjadi satu dan satu yang mencakup semuanya” yakni kekuatan yang mampu mengalahkan sumber kejahatan yang ingin menguasai dunia. Mirip sosok Harry Potter yang diramalkan sebagai anak yang dilahirkan untuk mengalahkan kekuasaan sihir hitam Lord Voldemort. Dan Josh dan Sophie adalah si kembar dimaksud.

Cerita dimulai saat si kembar yang sedang ditinggal oleh orang tuanya (yang berprofesi arkeolog) mengisi liburan dengan bekerja di toko buku milik Nicholas dan kedai kopi milik Parenelle. John Dee berhasil mencium keberadaan pasangan Flamel, mendatanginya pada suatu siang, merebut Codex (minus 4 halaman terakhir yang berhasil direbut Josh dan sebenarnya justru merupakan inti kesaktian buku itu), mengobarkan pertempuran, dan si kembar pun terseret dalam petualangan yang dipenuhi sihir gaib dan kemunculan para tokoh terkenal dari berbagai masa, baik dari dunia legenda maupun sejarah. Dalam perjalanannya, potensi sihir si kembar dibangkitkan, tapi tanpa melalui ‘pendidikan formal’ tujuh tahun ala Harry Potter, melainkan hanya dalam hitungan jam melalui pengaktifan aura dan transfer ilmu sihir yang mengingatkan kita pada proses meng-install program di komputer (!).

Sampai dengan buku ketiga ini, Flamel dan si Kembar masih melarikan diri dari kejaran John Dee dan Machiavelli yang dibantu oleh para tetua dan makhluk-makhluk legendaris berusia ribuan tahun. Flamel juga masih terus berusaha melengkapi elemen sihir si Kembar yang baru menguasai sihir api dan angin dengan elemen air dan tanah. Sedangkan Parenelle masih terpisah dari suaminya. Meskipun berhasil melarikan diri dari tahanan John Dee di Alcatraz, tapi dia tersesat ke dimensi waktu yang lain. Sementara pasangan manusia abadi tersebut terus menua dengan cepat karena tidak dapat membuat ramuan panjang umur lagi setelah Codex jatuh ke tangan musuh.

Menurut saya, meskipun ketegangan cerita lebih intens dan kemunculan para tokoh dan ilmu sihir mereka terkesan lebih hiruk pikuk, tapi serial Nicholas Flamel lebih ‘miskin alur’ dibandingkan Harry Potter. Jika JK Rowling senang memberikan kita kejutan berupa terungkapnya identitas ‘orang-orang dekat’ sebagai musuh dalam selimut dan membelokkan cerita kearah yang tak terduga bahkan sejak di serialnya yang pertama; Michael Scott lebih senang menciptakan musuh dengan memunculkan tokoh-tokoh baru dan menghindari tema ‘pengkhianatan’ atau kejutan karakter lainnya dari tokoh-tokoh yang ada, at least hingga di bukunya yang ketiga ini. Kalau dibuat perumpamaan, maka cerita JK Rowling membawa para pembaca serial Harry Potter dalam perjalanan ala jalanan pegunungan yang dipenuhi kelokan, tanjakan, dan percabangan, maka Michael Scott membawa para pembaca serial Nicholas Flamel dalam perjalanan melalui jalan tol yang dipenuhi dengan halang rintang ala game balap mobil.

Tapi meski tidak se-fenomenal Harry Potter, buku serial Nicholas Flamel ini cukup mengasyikkan buat diikuti. Ide tentang Alam Bayangan (dimensi lain dari dunia manusia), pedang kembar Clarent (menciptakan panas) dan Excalibur (menciptakan dingin), aura yang memiliki aroma (jeruk, vanilla, mint, sampai belerang), lumayan menghibur. Cocok buat mereka yang ingin sejenak melarikan diri dari kesibukan ataupun kebosanan hidup dunia nyata…..

DN